SUMENEP - Puncak musim penghujan (off season) yang biasanya jatuh pada bulan Januari-Februari, merupakan masa dimana petani bawang merah di daerah sentra tidak banyak menanam bawang merah karena intensitas hujan yang tinggi tersebut beresiko menggenangi lahan sehingga menyebabkan kerugian petani yang cukup besar. Akibatnya pasokan bawang merah pada bulan Maret–April cenderung berkurang.

Sebaliknya, saat musim kemarau (on season), permasalahan klasik yang dihadapi petani adalah harga jual bawang merah di tingkat petani, jauh di bawah biaya tanam hingga panen yang sudah dikeluarkan. Hal ini mengakibatkan kerugian yang diderita petani bawang merah di sejumlah daerah di Indonesia.

Namun tidak demikian halnya dengan petani di Kecamatan Rubaru Kabupaten Sumenep, Madura. Hal ini telah diantisipasi oleh petani dengan pengaturan musim tanam dan panen yang berbeda dengan sentra-sentra produksi bawang merah lain.

Saat off season bagi mereka merupakan saat berburu rejeki dari penjualan bawang merah. Petani tetap menuai keuntungan besar meski di musim hujan. Sebab, bawang merah yang ditanam merupakan varietas lokal “Rubaru”yang berasal dari seleksi kultivar lokal Sumenep Madura terbukti tahan di segala cuaca.

Varietas ini juga tahan terhadap penyakit Fusarium dan Alternaria, serta serangan hama ulat grapyak (Spodoptera Exigua). Selain itu, Rubaru dapat beradaptasi dengan baik di dataran rendah sampai medium baik pada musim hujan maupun musim kemarau, dengan potensi hasil umbi kering sekitar 14-17 ton per hektar.

Melihat potensi yang besar tersebut, diperlukan juga penataan manajemen perbenihan oleh pemerintah, petani, dan penangkar untuk memenuhi kebutuhan tanam sehingga faktor keterbatasan benih tidak menjadi penghambat. Untuk areal tanam di Sumenep sendiri, dibutuhkan benih sekitar 1000 ton per musim tanam.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui BPTP Jawa timur ikut berperan serta, diantaranya menjadi narasumber dalam bimbingan teknologi manajemen perbenihan. Salah satunya  yang diselenggarakan pada hari Sabtu (23/03/2019) di BPP Rubaru Sumenep. Bimtek tersebut dihadiri 30 petani milenial dari Sumenep dan Bangkalan.

 “Varietas ini tahan cuaca ekstrim, tahan penyakit layu fusarium, dan kualitasnya tetap baik sampai masuk masa panen walaupun saat musim hujan sekalipun, sehingga harganya tetap tinggi. Saat varietas lain gagal panen akibat cuaca buruk, Rubaru bahkan memiliki anakan lebih banyak dua kali lipat dibanding bawang merah varietas lain.” Ungkap Kepala UPT Pertanian Kecamatan Rubaru.

Kecamatan Rubaru saat ini menjadi pusat produksi bawang merah di Kabupaten Sumenep, dengan luas areal tanam mencapai 1.300 hektar, dan produktivitas sebesar 8 ton per hektar. Petani setempat bisa menanam bawang merah sebanyak 3 kali dalam setahun, yaitu pada bulan Februari-Maret, Mei-Juni, dan Oktober-November.

Menurut salah satu petani, Ilyasin, pendapatan yang diperoleh dari hasil tanam bawang merah di Rubaru ini, minimal empat kali lipat dari modal yang dikeluarkannya. Dengan modal 10 juta rupiaj, mereka bisa mendapatkan hasil 40 rupiah juta sampai 50 juta rupiah setiap panen. Nilai tambah lain dari varietas Rubaru adalah produk olahan yaitu memiliki kekhasan lebih crispi, aroma lebih harum, serta lebih enak untuk bawang goreng. (EPA)

Sumber : Balitbangtan

favicon sertifikasi
BALAI PENELITIAN TANAMAN SAYURAN
Jl. Tangkuban Perahu 517,Kotak Pos 8413 Lembang 40391 - Jawa Barat - Indonesia.

Waktu Pelayanan

  • Senin s/d Kamis
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 12.00 - 13.00 WIB
  • Jumat
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 11.30 - 13.00 WIB
Connect With Us