Kumbang Paederus spp. Curt. memiliki hampir 600 spesies di seluruh dunia. Kumbang in termasuk dalam Ordo Coleoptera, keluarga Polyphaga dan sub-keluarga Staphylinoidea, dan Famili Staphylinidae dan yang terdapat di Indonesia ialah Paederus fuscipes. Dalam bahasa Inggrisnya disebut “rove beetle” atau kumbang penjelajah atau pengelana, karena selalu aktif berjalan-jalan. Masyarakat menyebutnya Tomcat, mungkin karena bentuknya sepintas seperti pesawat tempur Tomcat F-14. Tubuh kumbang ini ramping, dan pada saat berjalan bagian belakang tubuhnya melengkung ke atas (Gambar 1).

tomcat 1

Gambar 1. Kumbang dewasa Paederus fuscipes Curt.

Kumbang berukuran panjang 7-10 mm dan lebar 0,5-1,0 mm. Kepalanya berwarna hitam, sayap berwarna biru kehitaman dan hanya menutupi bagian depan tubuh. Bagian toraks dan abdomen berwarna orange atau merah. Tahap fase larva kumbang Paederus berkembangkan di daerah lembab seperti rawa-rawa, lahan pertanian beririgasi dan lahan sawah. Larva biasanya memakan serangga kecil dan telur serangga. Kumbang dewasa bisa hidup selama beberapa bulan dan menghasilkan dua atau lebih generasi per tahun. Serangga dewasa adalah predator serangga lain di daerah tropis dan sering ditemukan siang hari untuk mencari mangsa. Serangga ini beristirahat pada vegetasi tanaman di daerah persawahan. Pada malam hari kumbang dewasa tertarik akan cahaya terutama cahaya lampu.

Kumbang predator Paederus fuscipes yang ada di Indonesia tidak efektif sebagai predator wereng coklat karena sifatnya yang polifagus (memakan banyak jenis serangga) tetapi beberapa petani SLPHT dan praktisi di lapangan serta FAO (1994) menyatakan bahwa serangga ini cukup potensial sebagai musuh alami hama pertanaman padi. Serangga yang dimangsa oleh kumbang Paederus adalah kelompok hama wereng antara lain wereng padi, wereng jagung, wereng kedelai, wereng kacang tanah dan kacang hijau,dan ada juga yang mengatakan bahwa kumbang ini juga memakan telur Helicoverpa armigera yang terdapat pada tanaman kacang-kacangan dan cabai. Sampai saat ini belum ada penelitian tentang pemanfaatan kumbang ini untuk mengendalikan hama-hama pada tanaman hortikultura terutama tanaman sayuran. Namun bila tanaman sayuran ditanam berdekatan dengan tanaman hortikultura ada kemungkinan serangga ini akan memangsa wereng daun pada tanaman sayuran, telur ulat grayak dan telur ulat penggerek buah tomat.

Musuh alami yang menyerang kumbang Paederus selama ini adalah virus, cendawan, bakteri dan serangga predator lain yang dalam kondisi rendah tidak mampu mengendalikan kumbang Paederus secara alami. Akibatnya populasi kumbang Paederus meningkat dengan pesat dan terbang menuju pemukiman karena tertarik akan cahaya lampu penerangan.

Perubahan ekosistem dan perubahan iklim

Perubahan ekosistem dari lahan pertanian/rawa menjadi tempat pemukiman membawa dampak terhadap dinamika populasi kumbang Paederus spp. Kumbang Paederus selama ini lebih dikenal sebagai predator dan sahabat petani karena bisa mengendalikan bermacam-macam seranggga hama terutama hama wereng. Akibat perubahan ekosistem dari persawahan atau rawa yang telah berubah menjadi tempat pemukiman, gedung bertingkat, maka kumbang ini tidak lagi mendapatkan makanan karena populasi mangsa berkurang, dan akibatnya kumbang ini mengembara kepemukiman penduduk. Kumbang Paederus dan serangga lain tertarik akan pijarnya lampu pada perumahan penduduk, sehingga kumbang Paederus di tempat perumahan akan mendapatkan mangsa yang selanjutnya akan menjamin kelangsungan hidup serangga Paederus karena adanya makanan.

Perubahan iklim yang terjadi pada akhir-akhir minggu ini menyebabkan kondisi iklim cukup lembab, hujan turun hampir setiap hari akan memicu perkembang biakan kumbang Paederus. Kumbang Paederus telah dikenal terbang dalam jumlah besar pada malam yang hangat, terutama setelah hujan lebat atau banjir.

Populasi kumbang meningkat pesat pada akhir musim hujan dan kemudian dengan cepat berkurang dengan datangnya cuaca kering. Populasi yang meningkat dikaitkan dengan musim hujan dan fenomena elnino. Dinamika populasi serangga banyak dipengaruhi oleh faktor serangganya sendiri yaitu kemampuan serangga itu berkembang biak. Sedang faktor luar di pengaruhi oleh rantai makanan, lingkungan fisik dan musuh alami.

Dampak serangan Paederus terhadap manusia

Tomcat sebagaimana serangga lainnya memiliki hemolimfa yang berisi pederin (C25H45O9N), zat kimia iritan kuat, yang akan menimbulkan reaksi gatal-gatal dan rasa terbakar. Hemolimfa pada genus Paederus mengandung toksin (racun) yang dikenal dengan nama pederin, namun tergantung juga spesiesnya, bisa jadi mengandung molekul yang berbeda seperti pederon atau pederin semu (pseudopederin). Jika kulit kita mengalami kontak dengan hemolimfa yang mengandung pederin, maka akan terjadi iritasi dan peradangan, sehingga menimbulkan dermatitis kontak iritan, yang lebih spesifik disebut dermatitis linearis Kulit iritasi hasil dari kontak dengan pederin racun dapat menyebabkan bengkak/melepuh pada kulit manusia (Gambar 2). Kontak kulit dengan hemolimfa dari serangga tomcat bisa tidak serta menimbulkan gejala. Biasanya dalam jangka 12 hingga 36 jam, tanda kemerahan (eritema) mulai tampak diikuti dengan munculnya lepuhan (eritema bulosa). Iritasinya sendiri bisa bertahan selama beberapa minggu.

Gambar 2. Pederin, racun yg menyebabkan bengkak/melepuh pada kulit manusia

Kulit manusia dapat terkena atau kontak dengan hemolimfa jika bersentuhan langsung dengan serangga, dan dampaknya bisa diperburuk jika menghancurkan tubuh serangga saat menempel pada kulit kita. Atau kulit yang terkena hemolimfa mengenai permukaan kulit lainnya, misalnya pada lipatan tubuh seperti siku, atau tangan yang digunakan menepuk serangga ini pada kulit menyentuh bagian kulit lainnya, menimbulkan lesi bayangan (kissing/mirror lesions). Secara umum efek iritasi yang dihasilkan bukanlah kondisi menular. Namun tetap mesti waspada kontak antar kulit dengan area permukaan kulit yang diketahui baru saja kontak dengan serangga ini, untuk menghindari adanya kemungkinan efek lesi bayangan.

Pertama-tama, pecegahan tentu lebih baik daripada mengobati. Mengenali tomcat (genus Paederus) tentu akan membantu. Kemudian hindari serangga ini sebisa mungkin. Pasang pengaman seperti menutup ventilasi rumah dengan kain kasa, memasang kelambu di sekitar tempat tidur dan jangan lupa ingatkan anggota keluarga yang lain terutama anak-anak agar jangan bermain dengan tomcat.

Bagaimana jika serangga tomcat sudah hinggap pada permukaan kulit kita? Cobalah tenang dulu, dan jangan buru-buru menyingkirkannya dengan menepuknya, karena ini berarti berpotensi menghasilkan lebih banyak cipratan toksin pederin pada permukaan kulit. Untungnya serangga tomcat termasuk tidak agresif, cobalah memindahkannya ke lembaran lain (seperti kertas) dengan perlahan. Kemudian segeralah cuci area permukaan kulit yang tadi kontak dengan serangga tomcat menggunakan sabun dan air mengalir. Ini adalah langka pertama untuk setiap kontak kulit dengan serangga tomcat, termasuk yang tidak sengaja (pun sengaja) terbunuh/dibunuh di permukaan kulit kita, termasuk juga menyentuh serangga yang baru mati.

Terdapat sebuah teori yang menyatakan bahwa toksin pederin merupakan hasil endosimbiosis dengan bakteri tertentu (Kellner. 2001). Sehingga kontaminasi oleh hemolimfa tomcat mungkin mengandung bakteri. Maka pencucian dengan disinfektan potasium permanganat (KMnO4) di beberapa praktek akan disarankan jika tersedia. Dalam sebuah penelitian, pemberi potasium permanganat (sebagai disinfektan) dan kalamin/calamine (sebagai anti-pruritus, biasanya berbentuk losio/lotion) lebih efektif dibandingkan fluocinolone (topikal kortikosteroid) dalam menyembuhkan dermatitis linearis oleh genus Peaderus.

Penelitian lain menyarankan kombinasi antara antibiotik oral (terutama yang memiliki spektrum untuk bakteri gram negatif) dengan topikal steroid dan antihistamin oral (Qadir et al. 2006). Jika kumbang Paederus hinggap pada kulit Hindari keinginan untuk membunuh setiap kumbang Paederus untuk mencegah kumbang melepaskan pederin pada kulit dan bila tidak sengaja dipencet/dibunuh pada kulit, segera cuci bagian yang terkena dengan air dan sabun. Pederin perlahan dapat menembus kulit. Cuci segera untuk membuang toksin sebelum membahayakan kulit. Reaksi kulit terhadap pederin berbeda tergantung tingkat sensitif dari kulit. Kontak dengan pederin bisa menyebabkan dermatitis / dikenal dengan penyakit herpes diikuti oleh peradangan dari daerah tersebut menjadi ruam kemerahan dan akhirnya melepuh seperti luka pada kulit.

Dermatitis Paederus (herpes) terjadi terutama pada bagian-bagian tubuh yang terbuka. Dari Pengamatan ditemukan dermatitis lebih sering ditemukan pada bagian dari tubuh, kepala, wajah, leher, tangan, kaki dan daerah sekitar pinggang yang paling sering terkena. Tingkat keparahan dari reaksi mungkin disebabkan racun yang lebih kuat atau tingkat sensitifitas dari kulit. Waktu penyembuhan bervariasi berkisar antara 14 sampai 28 hari, tergantung proses pengobatan dan perawatan luka.

Pengendalian Padatnya populasi kumbang Paederus di tempat pemukiman tidak dianjurkan untuk dikendalikan dengan insektisida, mengingat insektisida akan berpengaruh buruk terhadap manusia, hewan, dan serangga berguna lainnya. Cahaya lampu dan warna kuning paling disukai oleh serangga tersebut, oleh karena itu lampu dan papan berwarna kuning dapat dipakai sebagai alat pengendalian serangga. Cara pengendalian dengan penggunaan lampu perangkap, lampu yang di bawahnya di letakkan panci/pan yang berisi air dan deterjen atau insektisida. Penggunaan papan perangkap kuning, yakni papan berwarna kuning yang telah diberi lem ditempatkan di dekat lampu, kumbang Paederus akan mendekat dan menempel pada papan kuning. Gunakan pakaian dengan lengan panjang, dan sarung tangan akan membantu melindungi kulit dari kontak dengan kumbang. Gunakan kawat kasa pada jendela rumah dan kantor untuk membantu mencegah kumbang Paederus dan serangga lainnya masuk ke dalam rumah. Hilangkan vegetasi di sekitar bangunan dan area kerja untuk menghilangkan tempat yang dapat menjadi perkembangan kumbang dan larva.

Gambar 3. Macam-macam perangkap serangga

Oleh: Ahsol Hasyim dan Liferdi Lukman

favicon sertifikasi
BALAI PENELITIAN TANAMAN SAYURAN
Jl. Tangkuban Perahu 517,Kotak Pos 8413 Lembang 40391 - Jawa Barat - Indonesia.

Waktu Pelayanan

  • Senin s/d Kamis
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 12.00 - 13.00 WIB
  • Jumat
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 11.30 - 13.00 WIB
Connect With Us