Pengembangan Kawasan Bioindustri Bawang Merah di Kabupaten Solok merupakan kegiatan strategis dalam mendukung program Kementerian Pertanian untuk swasembada dan ekspor bawang merah.
 
Bioindustri Bawang merah mengandung makna pengembangan agribisnis bawang merah, terintegrasi dari perbenihan dan input lain, budidaya hingga panen dan pasca panen, serta pemasaran dan pengelolaan minimum limbah. Perbenihan memegang peran utama dalam peningkatan produkivitas, sehingga upaya yang mengarah kepada mandiri benih adalah suatu keharusan.  Hal ini selaras dengan telah dicanangkannya Tahun 2018 sebagai Tahun Perbenihan Hortikultura, baik oleh Presiden RI maupun Menteri Pertanian. 
 
Peresmian Kawasan Bioindustri Bawang Merah dilaksanakan pada tanggal 11 November 2017, dengan melibatkan Petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Bintang Timur, Lembah Gumanti, Kabupaten Solok.  Kegiatan ini merupakan kerjasama antara Balitbangtan Kementerian Pertanian dengan Pemkab Solok dan Komisi 4 DPR RI.  Peresmian dilakukan oleh Bupati Solok, dihadiri oleh sekitar 125 tamu undangan. Hadir pada acara tersebut adalah Bapak H. Gusmal, SE, MM (Bupati Solok), Dr. Hardiyanto (Kapuslitbang Hortikultura), Prof. Risfaheri (Ka BB Litbang Pasca Panen), SKPD lingkup Pemerintah Daerah Kabupaten Solok, Para pejabat lingkup Balitbangtan, serta petani bawang merah dan Kelompok Wanita Tani.
 
Dalam peresmian kawasan tersebut, dilakukan penandatanganan Naskah Kerjasama (PKS) antara BB Litbang Pasca Panen, Puslitbang Hortikultura dengan Dinas Pertanian Kabupaten Solok tentang pengembangan inovasi teknologi perbenihan dan pasca panen bawang merah di Kabupaten Solok.  PKS merupakan tindak lanjut penandatanganan Nota Kesepahaman antara Bupati Solok dengan Kepala Badan Litbang Pertanian di Balitbu Tropika, Januari 2017. Tentu saja sebagai acara puncak adalah “Peresmian Kawasan Perbenihan dan Bioindustri Bawang Merah” yang ditandai dengan pembukaan papan nama, yang dilanjutkan dengan kunjungan ke unit instore dryer, alat pengolah bawang merah dan mini display hulu hilir Bawang Merah.
 
Seperti kita ketahui, bahwa Kabupaten Solok merupakan sentra utama produksi bawang untuk Pulau Sumatra.  Menteri Pertanian telah mentargetkan luas pertanaman bawang merah yang saat ini berkisar 6.700 Ha dapat ditingkatkan menjadi 10.000 Ha pada tahun 2019.   Untuk itu perlu adanya teknologi, untuk dapat mencapai target yang spektakuler tersebut, sehingga Balitbangtan hadir bersama masyarakat membuat model pengembangan Bioindustri Bawang Merah di Kabupaten Solok. 
 
Masyarakat Lembah Gumanti, Alahan Panjang sebagian besar merupakan petani bawang merah, yang sudah bertanam bawang merah sejak tahun 80an.  Sementara Kelompok Tani Bintang Timur, merupakan salah satu yang paling progresif dan dapat menerima inovasi teknologi Balitbangtan, sehingga tepat kiranya dipilih kelompok tani tersebut untuk bekerjasama.  Permasalahan yang sering dihadapi oleh petani adalah tingkat kekeringan bawang merah yang rendah, di mana selalu kalah bersaing dengan bawang merah dari Brebes. Sehingga salah satu solusi mengatasinya adalah Badan Litbang Pertanian membangun instore dryer berkapasitas 15 ton. 
 
Bukanlah hal yang asing lagi, bahwa bawang merah merupakan salah satu kebutuhan pokok penyumbang inflasi. Hal ini terlihat dari tingginya fluktuasi harga bawang merah beberapa tahun terakhir. Fluktuasi ini bersifat musiman, dan sangat dipengaruhi oleh pola produksi, yaitu ketersediaan yang melimpah saat musim panen raya dan kelangkaan saat di luar musim panen (off season). Ketersediaan bawang merah dan benihnya yang cukup sepanjang waktu diharapkan dapat menstabilkan harga dan mencegah inflasi. Oleh karena itu, perlu memperkuat basis produksi salah satunya di Lembah Gumanti, Kabupaten Solok dalam rangka menstabilkan ketersediaan benih bawang merah di pasar dalam negeri. Berdasarkan hal tersebut, maka Balitbangtan berkomitmen untuk mendukung upaya penciptaan penyediaan benih bawang merah secara mandiri sepanjang tahun melalui inovasi teknologi perbenihan, budidaya dan pasca panen, dalam bentuk pengenalan True Seed of Shallot (TSS), budidaya secara intensif dan pembangunan dan pengenalan penggunaan Instore dryer. Penggunaan TSS akan dapat mengurangi susut benih bawang merah yang cukup besar di samping menghemat biaya perbenihan. Lebih lanjut penggunaan TSS memberikan kepastian karakter dan produktivitas tanaman.   
 
Budidaya bawang merah secara intensif yang dikenal dengan PROLIGA (Produksi Lipat Ganda) dapat diterapkan di Kabupaten Solok dengan menerapkan: (1) Penggunaan TSS varietas Lokal, (2) Peningkatan populasi tanam, (3) Pengelolaan tanah, hara, dan air, serta (4) Penerapan PHT.  Sehingga diharapkan bahwa produktivitas tanaman yang sudah mencapai 12-14 ton per Ha dapat dilipatgandakan menjadi lebih dari 20 ton per Ha. Agar kegiatan pengembangan kawasan perbenihan di Kabupaten Solok ini berlangsung lebih efektif, maka Badan Litbang Pertanian bersama-sama dengan Pemerintah Kabupaten Solok telah berkomitmen untuk bersinergi dalam mensukseskan “Perbenihan dan Bioindustri Bawang Merah” melalui pendampingan inovasi teknologi hortikultura untuk mendukung penyediaan benih bawang merah secara mandiri (IWA).   
 
Sumber : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura
favicon sertifikasi
BALAI PENELITIAN TANAMAN SAYURAN
Jl. Tangkuban Perahu 517,Kotak Pos 8413 Lembang 40391 - Jawa Barat - Indonesia.

Waktu Pelayanan

  • Senin s/d Kamis
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 12.00 - 13.00 WIB
  • Jumat
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 11.30 - 13.00 WIB
Connect With Us