15ihc20161

Peran subsektor hortikultura dalam mewujudkan kemandirian dan swasembada pangan demi terwujudnya Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berlandaskan gotong royong sangatlah penting. Kontribusi subsektor ini ditekankan pada pencapaian dua dari sembilan Nawa Cita yaitu peningkatan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional serta peningkatan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik untuk mewujudkan kedaulatan pangan.

Pengembangan komoditas strategis dan unggulan hortikultura dilakukan melalui suatu pendekatan kawasan pertanian bio-industri yang memiliki keunggulan komparatif (comparative advantages) dengan optimalisasi pengembangan inovasi hortikultura. Optimalisasi kegiatan litbang hortikultura diarahkan bersifat lintas sektoral, membangun science park dan techno park dalam rangka mempercepat proses adopsi teknologi, memperbanyak kegiatan penerapan teknologi berupa laboratorium lapang/demo plot, mengembangkan upaya-upaya kerjasama dengan berbagai pihak, dan mengembangkan kapasitas sumberdaya penelitian baik SDM, infrastruktur, sarana dan prasarana maupun kapasitas kelembagaan litbang hortikultura.

Peran Litbang Hortikultura ke depan semakin penting seiring dengan perubahan dan dinamisasi pembangunan pertanian nasional menuju pertanian modern. Untuk itu, upaya percepatan hilirisasi inovasi hortikultura modern perlu untuk mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan. Berbagai inovasi/teknologi unggulan telah dihasilkan oleh Balitbangtan di antaranya varietas unggul dan teknologi budidaya untuk mendukung peningkatan produksi dan produktivitas, teknologi perbenihan untuk mendukung kemandirian benih hortikultura nasional, teknologi pengelolaan lahan dan air untuk optimalisasi lahan marginal/suboptimal, teknologi pengolahan panen dan pasca panen untuk peningkatan mutu hasil produk, serta teknologi sistem informasi yang memudahkan akses informasi hortikultura oleh users. Hilirisasi inovasi yang dihasilkan Balitbangtan tersebut penting dilakukan untuk pemanfaatan, penggunaan yang lebih luas dan komersialisasi yang menghasilkan nilai tambah bagi petani dan pelaku usaha pertanian serta menumbuhkan motivasi bagi peneliti. Strategi hilirisasi inovasi hortikultura dapat dilakukan melalui pengembangan model pertanian bio-industri, pelaksanaan Gelar Lapang Inovasi Pertanian komoditas, dan pengembangan UPBS yaitu penyediaan benih sumber dan pembinaan penangkar termasuk kegiatan kerja sama.

ihc20162

Langkah-langkah operasional dan strategis serta didesain secara khusus untuk memperkenalkan lebih detil dan lebih luas, memasarkan dan menjaring stakeholders potensial sebagai adopter inovasi hortikultura yang dihasilkan Balitbangtan. Talkshow Indonesian Horticultural Club (IHC) dilaksanakan tanggal 14 April 2016 di Padjajaran Suites Resort and Convetion Hotels, Bogor Nirwana Residence (BNR) dengan tema “Menggapai Asa Petani dengan Inovasi Hortikultura”. Acara tersebut menghadirkan stakeholders nasional litbang hortikultura yang berasal dari UK/UPT lingkupKementerian Pertanian, Bappenas, Kementerian Koordinator Perekonomian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Pemerintah Daerah, KADIN, Perusahaan Perbenihan, UGM, IPB, petani penangkar, supermarket/wholeseller, ASBENINDO, PTPN, dan stakeholders lainnya. Acara ini dimaksudkan untuk menjalin dan memeprkuat networking, menggali permasalahan isu-isu strategis hortikultura nasional, serta mengidentifikasi positioning peran inovasi dalam pengembangan hortikultura nasional.

Bertindak sebagai pembawa acara pada Indonesian Horticultural Club (IHC) adalah Prof. Dr. Erizal Jamal dan Dr. Idha Widi Arsanti, sekaligus sebagai pembuka IHC dan mendapat sambutan meriah dari peserta yang hadir pada malam itu. Berbagai persoalan terkait subsektor hortikultura coba digali oleh pembawa acara dengan melemparkan permasalah kepada peserta IHC layaknya Indonesian Lawyer Club dengan Karni Ilyasnya.

Diantara diskusi yang mencuat adalah kehadiran kalangan swasta dalam industri perbenihan komoditas hortikultura jangan disikapi sebagai saingan atau musuh tetapi harus ditempatkan sebagai partner, yang bisa diajak bekerjasama untuk memajukan hortikultura Indonesia. Kalangan swasta juga jangan hanya memanfaatkan produk Badan Litbang Pertanian saja tetapi harus juga merancang kegiatan penelitian dalam rangka mengisi apa yang tidak didapat dari Badan Litbang Pertanian. Badan Litbang Pertanian diharapkan tidak saja mampu menghasilkan inovasi tetapi juga harus berkreasi agar inovasi yang dihasilkan termanfaatkan oleh petani secara maksimal. Puslitbang Hortikultura banyak mendapat feedback dari acara ini diantaranya sebagai usaha pemenuhan kebutuhan pasar agar Badan Litbang Pertanian melakukan penelitian berdasarkan permintaan pasar dan membuat pertanaman hortikultura dalam sebuah kawasan sehingga kuntinyuitas yang selama ini menjadi kendala eksportir terpenuhi. Tidak ketinggalan cerita keluarga sukses dari Kulunprogo Yogyakarta yang mengusahakan pertanaman bunga krisan, untuk 300 m2 tanaman krisan mampu memberi keuntungan Rp. 5.000.000,- per bulan.

Pada akhir acara Kepala Puslitbang Hortikultura Dr. Prama Yufdy menyampaikan apresiasi dan rasa gembiranyan dengan begitu tingginya perhatian masyarakat terhadap hortikultura. Prama Yufdy juga menyampaikaan bahwa penelitian Badan Litbang kedepan bukan lagi pada ketersediaan plasmanutfah yaang ada tetapi akan lebih diarahkan kepada kebutuhan pasar.

Sumber : Puslitbang Hortikultura

favicon sertifikasi
BALAI PENELITIAN TANAMAN SAYURAN
Jl. Tangkuban Perahu 517,Kotak Pos 8413 Lembang 40391 - Jawa Barat - Indonesia.

Waktu Pelayanan

  • Senin s/d Kamis
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 12.00 - 13.00 WIB
  • Jumat
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 11.30 - 13.00 WIB
Connect With Us