Budidaya Cabai di Lahan Tadah Hujan

Salah satu program Kementerian Pertanian adalah percepatan swasembada pangan (padi, jagung, kedelai, cabai, bawang merah, tebu, daging) melalui intensifikasi dan pemanfaatan lahan sub-optimal seperti lahan kering beriklim kering (lahan sawah tadah hujan).
Ditopang oleh teknologi panen air hujan sebagai bentuk aksi adaptasi perubahan iklim, budidaya cabai di lahan tadah hujan dilakukan melalui strategi inovasi off season, dengan mempertimbangkan lonjakan harga cabai pada bulan November – Januari akibat kelangkaan dan karakteristik produk yang tidak tergantikan. Hal tersebut hanya dapat diatasi dengan kebijakan pengembangan budidaya lahan kering pada musim kemarau, pengembangan teknologi budidaya, dan pascapanen.
Budidaya tanaman cabai (Capsicum annuum L.) di lahan tadah hujan memerlukan keterampilan yang cukup. Salah satu kendala dalam budidaya cabai ini adalah serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang dapat mengurangi produktivitas. Pengendalian OPT ini dapat dilakukan antara lain dengan pengaturan pola tanam dengan melakukan pergiliran tanaman yang tidak berasal dari satu keluarga/famili.
Kemudian, dapat dilakukan pengaturan sistem tanam dengan tumpang gilir tanaman cabai merah dengan tanaman bawang merah di dataran rendah yang bertujuan untuk menekan serangan trips dan menanam tanaman penghadang empat baris jagung di sekeliling tanaman cabai merah 1,5 bulan sebelum tanam cabai merah bertujuan untuk menekan serangan hama kutu kebul.
Pemilihan varietas yaitu dengan cabai merah varietas Tanjung 1 yang agak toleran terhadap hama pengisap seperti trips dan kutu daun. Lalu, penggunaan mulsa plastik hitam perak yang bertujuan memutus siklus hidup hama, hal ini disebabkan hama seperti trips, ulat buah, ulat grayak tidak dapat berkepompong di dalam tanah di sekitar tanaman karena terhalang oleh mulsa plastik tersebut
Pengendalian OPT pada tanaman cabai mengacu pada pengendalian hama terpadu dengan meminimalisasi penggunaan pestisida kimiawi dengan mengganti biopestisida yang ramah lingkungan.
Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) di Lembang telah mengembangkan biopestisida yang dapat digunakan untuk mengendalikan Thrips (Thrips parvispinus) dan tungau (Polyphagotarsonemus latus) dengan nama ATECU.


Informasi lebih lanjut : Balai Penelitian Lingkungan Pertanian

favicon sertifikasi
BALAI PENELITIAN TANAMAN SAYURAN
Jl. Tangkuban Perahu 517,Kotak Pos 8413 Lembang 40391 - Jawa Barat - Indonesia.

Waktu Pelayanan

  • Senin s/d Kamis
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 12.00 - 13.00 WIB
  • Jumat
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 11.30 - 13.00 WIB
Connect With Us