MEA Peluang dan atau Tantangan dalam Mewujudkan Kedaulatan Pangan Nasional

Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sudah didepan mata dan akan efektif pada 1 Januari 2016. Daya saing produk pertanian adalah kata kunci untuk dapat memenangkan kompetisi global. Demikian salah satu kesimpulan FGD MEA “Peluang dan atau Tantangan dalam Mewujudkan Kedaulatan Pangan” yang diselenggarakan di kantor Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSEKP) pada 16 Juni 2015. FGD dibuka oleh Kepala PSEKP dengan menghadirkan narasumber antara lain Dr. Rusman Heriawan (PSEKP), Dr. Erwidodo (PSEKP) dan Dr. Rina Octaviani (IPB).
Disampaikan oleh Dr. Rusman dalam pembingkaiannya bahwa MEA akan efektif pada 1 Januari 2016 dengan focus pada kerjasama keamanan, ekonomi dan social budaya. Nilai yang terkandung dalam MEA ini adalah peduli bersama, berbagi bersama, maju bersama dan berjuang bersama dalam menghadapi ekonomi global. Adanya kebebasan arus barang dan jasa memaksa kita untuk focus pada kualitas produk pertanian dan unskiil labour. Permasalahan dalam aspek daya saing produk pertanian kita meliputi : a) Tuntutan standarisasi produk dan proses, b) Tuntutan pangan yang tidak mengandung bahan berbahaya, c) Tuntutan integrasi pengelolaan Rantai pasok, dan d) Peningkatan kualitas Mutu dan Keamanan Pangan. Selama ini komoditas pangan dan hortikultura lebih focus untuk pemenuhan kebutuhan pangan nasional. Indonesia masih kalah dalam daya saing produk pertanian dengan singapura dan Malaysia.
Dr. Erwidodo lebih menekankan pada manfaat MEA 2015 terkait dengan peningkatan daya saing sektor pangan. Dengan adanya MEA memungkinkan Negara-negara ASEAN untuk terintegrasi secara ekonomi dan ini akan memperkuat posisi Indonesia pada percaturan ekonomi global. Selain itu MEA akan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan ekspor produk pertanian kita ke pasar internasional. Dari data Indeks Harga Konsumen tahun 2012-2014 untuk makanan di Indonesia pada tahun 2010-2014 berfluktuasi dan meningkat jauh lebih cepat dibanding Singapura, Malaysia dan Thailand. Harga pangan paling stabil di Singapura. Sedangkan Indeks harga produsen beras/gabah di Indonesia meningkat lebih cepat dibanding Negara di ASEAN. Indeks Harga Produsen paling stabil ada di Cina.
Sedangkan Dr. Rina Oktaviani dari IPB menyampaikan topic tentang Ketahanan Pangan dalam ASEAN economic community, khususnya telaah komoditi beras. Karakteristik pasar beras di ASEAN adalah area penanaman didominasi oleh penanaman padi di semua Negara Anggota yang berbasis pertanian. Budidaya padi merepresentasikan hampir 60% dari area pertanian di Indonesia, Myanmar, Thailand dan Vietnam , serta mencapai 90% di Kamboja dan Laos. Dua eksportir beras terbesar di dunia, Thailand dan Vietnam, berada di wilayah ASEAN. Disamping itu, negara produsen beras lain yang penting di wilayah tersebut adalah Myanmar, yang mungkin memiliki potensi yang belum dimanfaatkan untuk meningkatkan output dan ekspor beras. Disamping potensi penawaran beras, wilayah ASEAN ini juga memiliki dua importir terbesar di pasar beras internasional, yakni Indonesia dan Filipina, meskipun keduanya melihat perdagangan sebagai lender of the last resource untuk stabilisasi harga beras dan penguatan ketahanan pangan. Oleh karena itu, posisi negara sebagai importir beras secara mutlak ditentukan produksi beras domestik

Rekomendasi kebijakan bagi Indonesia dalam memperkuat kedaulatan pangan di era MEA diantarannya adalah : 1) Portfolio kebijakan yang lebih menyeluruh untuk upaya boosting peningkatan daya saing perdagangan di sekor pertanian melalui peningkatan produktivitas komoditas, insentif research and development, provisioning infrastruktur, pembiayaan dan perbaikan konektivitas logistik secara terarah dan berkesinambungan, serta Mendukung investasi swasta tidak hanya pada produk primer tapi juga pada penyediaan (logistik), pergudangan, pengolahan dan distribusi. Hal ini untuk meningkatkan supply dan mengurangi volatilitas harga pangan antar musim dan daerah. 2). Diversifikasi pangan dan gizi untuk mengurangi tekanan terhadap permintaan beras.

Informasi lebih lanjut : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

favicon sertifikasi
BALAI PENELITIAN TANAMAN SAYURAN
Jl. Tangkuban Perahu 517,Kotak Pos 8413 Lembang 40391 - Jawa Barat - Indonesia.

Waktu Pelayanan

  • Senin s/d Kamis
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 12.00 - 13.00 WIB
  • Jumat
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 11.30 - 13.00 WIB
Connect With Us