Peneliti lyak mendapatkan royaltiBeberapa produk unggulan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) dipajang di ruang tamu gedung utama Balai  Pengelola Alih Teknologi Pertanian (BPATP) di Bogor, Jawa Barat. Ada Garcia, minuman kesehatan dari kulit manggis dan benih jagung hibrida super Bima Bantimurung. Semua produk tersebut sudah dipatenkan.

Dengan bangga, Kepala BPATP, Prof Erizal Jamal memperlihatkan berbagai inovasi unggulan Balitbangtan lainnya yang kini dalam proses pengajuan paten. Selain memperjuangkan paten produk-produk unggulan, BPATP juga mengejar segera keluarnya peraturan yang jelas mengenai royalti bagi penemu inovasi. Ro-yalti merupakan penghargaan atau imbalan financial yang layak diterima para penemu.
Kebanggaan setelah inovasinya diakui dengan sertifikat paten, royalti akan menjadi pemacu semangat para penemu untuk terus berkarya. “Royalti juga akan menggairahkan kegiatan Litbang. Besarnya royalti yang diterima seorang penemu akan jadi pemacu semangat penemu lain untuk menghasilkan inovasi yang lebih unggul. Sekarang ini kita sedang menunggu Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) mengenai royalti penemu,” kata Erizal Jamal kepada Majalah Sains Indonesia, baru-baru ini.
Telah banyak produk inovasi unggulan para peneliti Balitbangtan yang mendapat sertifikat paten. Namun, royalti sebagai economic rights si penemu yang berstatus sebagai pegawai negeri sipil (PNS), hingga kini belum ada kejelasan. BPATP, menurut Erizal, telah beberapa kali memberi masukan pada draf Permenkeu tentang royalti penemu. “Royalti adalah hak para pene-mu. Pemerintah sudah seharusnya menghargai prestasi mereka dengan memberikan royalti yang layak,” katanya.
Menikmati Royalti
Penemu-penemu di negara maju telah menikmati royalti dari hasil temuan yang dipatenkan. Seperti Thomas Alfa Edison, penemu lampu pijar. Edison tidak hanya dikenal di seantero dunia sebagai penemu hebat, ia juga bisa menikmati kehidupan yang mapan berkat royalti dari temuannya.
Menurut Erizal, kegiatan riset yang terus berkembang di negara-negara maju karena terpacu oleh besarnya imbalan ekonomi yang diperoleh peneliti ketika temuannya diakui dan dipatenkan. Amerika Serikat (AS) sebagai negara yang sudah tak terhitung lagi menghasilkan produk paten, masih terus mendorong para penelitinya untuk menghasilkan karya-karya yang luar biasa. Tak heran bila 70% penerimaan negara itu diperoleh dari menjual paten.
“Kalau kegiatan Litbang bergairah, akan lebih banyak inovasi unggulan yang dihasilkan. Dengan begitu, lebih banyak produk karya anak bangsa yang bisa menguasai pasar dalam negeri. Jangan sampai selamanya kita menjadi pasar bagi negara lain. Karena itu, pemerintah harus mendukung Litbang dan menghargai inovasi terbaik, terutama melalui royalti bagi penemu,” kata Erizal.

SUmber : Majalah Sains Indonesia

favicon sertifikasi
BALAI PENELITIAN TANAMAN SAYURAN
Jl. Tangkuban Perahu 517,Kotak Pos 8413 Lembang 40391 - Jawa Barat - Indonesia.

Waktu Pelayanan

  • Senin s/d Kamis
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 12.00 - 13.00 WIB
  • Jumat
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 11.30 - 13.00 WIB
Connect With Us