GAP sebagai Salah Satu Hambatan Teknis

Good Agricultural Practices (GAP) adalah technology application based on morality, responsibility, equity and prosperity atau dengan kata lain GAP adalah penerapan sistem sertifikasi proses produksi pertanian yang menggunakan teknologi maju ramah lingkungan dan berkelanjutan, sehingga produk panen aman konsumsi, kesejahteraan pekerja diperhatikan dan usahatani memberikan keuntungan ekonomi bagi petani.
GAP merupakan salah satu Non-Tariff Barrier (NTB), diperkenalkan pertama tahun 2000 atas bahan pangan segar (sayur dan buah) di Uni Eropa. Indonesia sejak 2003 telah memiliki ketentuan GAP Sayuran, dan telah diakui internasional sebagai INDOGAP (2004). Secara berangsur semua produk bahan pangan yang diperdagangkan secara global dipersyaratkan (voluntarily) memiliki sertifikat GAP.
ASEAN-GAP menekankan empat komponen yang masing-masing membawa tujuan secara implisit, yaitu keamanan konsumsi pangan, pengelolaan lingkungan dengan benar, keamanan, kesehatan dan kesejahteraan pekerja lapang, serta jaminan kualitas produk dan traceability produk bila diperlukan.
Negara boleh memberlakukan persyaratan sertifikat GAP dalam impor produk pangan apabila negara yang bersangkutan telah mempunyai ketentuan GAP yang diakui dunia dan telah mulai diterapkan.
FAO mendorong negara anggotanya mengadopsi GAP dalam proses produksi pangan. WTO mendorong sistem standardisasi produk melalui sertifikasi, termasuk GAP, dengan persyaratan harmonisasi ketentuan standard, pengakuan bersama terhadap metode inspeksi dan sertifikasi, dan akreditasi sistem sertifikasi secara internasional. Sertifikasi produksi menggunakan bermacam-macam istilah, tetapi GAP sudah dikenal dan telah mempunyai International Board/Global-GAP.
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah menyusun GAP Padi yang berisi Ketentuan Wajib (Major Must) 56 titik kendali, Ketentuan Anjuran (Minor Must) 64 titik kendali, dan Ketentuan Disarankan (Recommendation) 44 titik kendali.
Sistem sertifikasi GAP (dan sejenisnya) telah diterapkan pada tanaman sayuran, buah, padi, kedelai, jagung, tebu, coklat, sawit, kopi, tembakau, teh, kapas, dan lainnya di negara-negara lain. Indonesia harus ikut mulai mengadopsi GAP/atau sertifikasi sejenisnya, kalau ingin bersaing dan survive dalam perdagangan Internasional. Sebagai contoh, Bangladesh hanya bersedia impor beras yang bersertifikat GAP, begitu juga negara-negara maju di dunia.
Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSEKP), Balitbangtan menggelar Seminar Pembangunan Pertanian dan Perdesaan, Rabu (18/3/2015) di Bogor. Aspek yang menjadi bahasan utama adalah Good Agricultural Practices (GAP) sebagai Salah Satu Technical Barrier to Trade dalam Perdagangan Internasional.


Informasi lebih lanjut : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

favicon sertifikasi
BALAI PENELITIAN TANAMAN SAYURAN
Jl. Tangkuban Perahu 517,Kotak Pos 8413 Lembang 40391 - Jawa Barat - Indonesia.

Waktu Pelayanan

  • Senin s/d Kamis
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 12.00 - 13.00 WIB
  • Jumat
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 11.30 - 13.00 WIB
Connect With Us