Isolasi cahaya kentangSeperti sebuah lagu “sambung menyambung menjadi satu”, inovasi kentang ternyata terus berlanjut hingga ke pasca panen. Jika penjelahan pada edisi pertengahan September 2014 lalu, kita membahas soal varietas Unggul Baru (VUB) kentang varietas Medians yang ada di Cikuray, Kabupaten Garut, kini kita kembali ke Kabupaten Garut untuk membahas bagaimana mengamankan produk pada saat pasca panennya. Ini artinya, inovasi bersambung dari varietas sampai ke pengolahan segar pasca panen.
Sebelum membahas lebih jauh soal penanganan pasca panen kentang ada baiknya kita tengok dulu VUB Medians yang kini tengah digadang-gadang akan menjadi alternatif jenis kentang atlantik yang banyak berkembang di Garut. Ingat pada edisi sebelumnya bahwa, Medians ini dilahirkan untuk mengatasi kelemahan yang ada pada jenis atlantik yang hingga kini masih tetap diimpor.
Kentang Atlantik memang sangat baik dijadikan sebagai bahan baku kripik namun varietas tersebut tidak disukai petani karena produktivitas rendah, tidak tahan OPT (organisme pengganggu tanaman) busuk daun, layu bakteri dan virus.
OPT busuk daun, layu bakteri dan virus dapat menyebabkan gagal panen sehingga untuk mengendalikan OPT tersebut diperlukan biaya yang tidak sedikit untuk membelanjakan pestisida.
Untuk mengatasi persoalan itu, Badan Litbang Pertanian dalam hal ini Balai Penelitian Tanaman Sayuran telah berhasil merakit varietas VUB (varietas unggul baru) kentang olahan kripik MEDIANS, VUB tersebut merupakan perbaikan dari varietas Atlantik yang memiliki kombinasi cocok untuk olahan kripik serta toleran terhadap OPT busuk daun, layu bakteri dan virus.
Dengan kata lain, MEDIANS selain disukai oleh industri juga disukai oleh petani atau penanam. VUB MEDIANS karena dirakit di dalam negeri memiliki adaptasi yang sangat baik untuk iklim tropis di Indonesia.
Pasca Panen Bagaimana?
Nah setelah kita tahu bahwa ada varietas alternatif dari jenis atlantik, sekarang kita mulai bicara pasca panennya. Akibat tidak tepat dalam penanganan pasca panen kentang bisa menyebabkan kehilangan nilai tambah produk pertanian.
Di Indonesia, kebutuhan kentang cenderung meningkat yang ditandai dengan peningkatan luas panen dan pernah mencapai produksi lebih dari 10,9 juta ton pada tahun 2012. Meskipun demikian, kehilangan dan kerusakan serta daya simpan juga masih menjadi kendala pasca panen dan pemasaran kentang sebagaimana produk hortikultura lainnya.
Oleh karena itu, diperlukan teknologi yang mampu mempertahankan tingkat kesegaran kentang dalam waktu yang cukup lama dan kualitas yang masih diterima konsumen/layak jual. Kondisi penyimpanan/gudang di tingkat petani seusai pemanenan masih belum memenuhi persyaratan standar penanganan pasca panen komoditas.
Teknologi untuk memperpanjang daya simpan segar tersebut menarik perhatian pengusaha. Untuk kentang, penyimpanan menjadi titik kritis kegiatan pasca panen yang perlu mendapat perhatian. Ruang penyimpanan atau gudang untuk stok kentang sangat diperlukan khususnya oleh pelaku usaha pengolahan seperti kripik kentang.
Penelitian pada tahun 2013 telah menghasilkan teknologi isolasi cahaya dalam rak penyimpanan dan mampu mempertahankan umbi kentang hingga lebih dari 3 bulan. Teknologi penyimpanan ini akan diterapkan langsung di tempat usaha pengolahan kripik kentang yang menjadi mitra BB-Pasca panen.
Penerapan teknologi penyimpanan kentang tersebut diharapkan dapat mengatasi gejolak harga kentang sebagai bahan baku kripik, sehingga margin keuntungan yang diperoleh masih memungkinkan bagi keberlanjutan usaha pengolahan kripik kentang.
Jika sebelumnya penerapan inovasi ini kehilangan hasil mencapai 20-30%, namun dengan menerapkan inovasi isolasi cahaya, kehilangan dapat ditekan hingga kurang dari 1%. Dondy A Setyadi/Mukhlis

Sumber : Tabloid Sinar Tani

favicon sertifikasi
BALAI PENELITIAN TANAMAN SAYURAN
Jl. Tangkuban Perahu 517,Kotak Pos 8413 Lembang 40391 - Jawa Barat - Indonesia.

Waktu Pelayanan

  • Senin s/d Kamis
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 12.00 - 13.00 WIB
  • Jumat
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 11.30 - 13.00 WIB
Connect With Us