Pemilihan Benih KentangBenih tanaman yang diperbanyak secara vegetatif, seperti tanaman kentang harus seperti air mengalir. Benih- benih yang kelasnya setara atau lebih rendah dari kelas benih ditargetkan tidak boleh digunakan. Benih hendaknya bersertifikat agar kesehatan terjaga.

Penggunaan benih sehat dimaksudkan untuk meminimalkan sumber infeksi pada awal pertanaman, karena asal benih menentukan kesehatan hasil panen berikutnya. Penyakit terbawa ubi dicegah dengan melakukan pengendalian saat tanam/pertanaman, atau melakukan roguing di pertanaman.
Luas pertanaman kentang pada tahun 2012, adalah 65.989 ha dengan total produksi 1.094.240 ton dan produksi 16,58 ton/ha. Kebutuhan benih rata-rata 1- 1,5 ton/ha, dan rata-rata kebutuhan benih per tahun 1.094.240 - 1.641.360 ton. Sumber benih kentang bagi petani ialah benih yang diproduksi sendiri atau benih yang dibeli dari daerah sentra produksi kentang. Sampai saat ini penggunaan benih bersertifikat dari dalam negeri masih di bawah 15 %.
Rata-rata produksi kentang Indonesia masih di bawah rata-rata produksi negara produsen di Asia. Usaha untuk memperbaiki produktivitas kentang di Indonesia sejak tahun 1980-an telah dirintis dengan mendatangkan banyak varietas atau calon varietas unggul dari luar negeri, baik Eropa maupun CIP (International Potato Center) di Lima, Peru. Dari hasil penelitian diperoleh varietas dengan produksi di atas 20 ton/ha. Walaupun potensi hasil varietas atau calon varietas tersebut baik, apabila tidak disertai dengan cara budidaya dan pengendalian hama dan penyakit yang baik, produktivitasnya akan tetap rendah.
Kebutuhan benih kentang per hektar rata-rata 1,2 – 1,5 ton jika ukuran benih (30-40 g per butir), tetapi akan meningkat menjadi 2-2,5 ton jika digunakan benih lebih besar dari 40 g per butir. Populasi tanaman kentang per hektar umumnya berkisar antara 40.000 – 50.000 tanaman.
Dalam pemilihan benih kentang ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi yaitu: 1) varietas benar, artinya varietas tidak tercampur atau sesuai dengan sertifikat yang dikeluarkan oleh BPSB, 2) kualitas (ubi benih sehat, tidak cacat atau ada kerusakan mekanis, terserang hama atau penyakit), 3) ukuran (ukuran benih sesuai untuk benih, tidak terlalu besar atau terlalu kecil), 4) benih telah pecah dormansi atau sudah bertunas dan keadaan tunas baik (vigour /kekar), 5) harga benih benih sesuai dengan kelas benih, (6) distribusi benih tepat dengan saat tanam.
Beberapa faktor –faktor yang berpengaruh terhadap kualitas benih ialah:
1. Kesehatan benih : a). tidak terserang OPT tular benih seperti bakteri, Phytophtora infestans, kudis/scab (dry rot dan silver scruf), nematoda b). tidak cacat mekanis, c) ukuran ubi sesuai untuk benih .
2. Umur ubi benih : a) kemampuan bertunas/sudah bertunas, b) jumlah tunas yang tumbuh, c) keadaan tunas/vigour tunas.
Varietas yang akan ditanam benar dan sesuai dengan sertifikat/surat keterangan.

Penulis  :  Laksminiwati PrabaningrumTonny K. Moekasan,Witono AdiyogaNikardi Gunadi

Sumber : Modul 2 Pelatihan Budidaya Kentang Berdasarkan Konsepsi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) 

favicon sertifikasi
BALAI PENELITIAN TANAMAN SAYURAN
Jl. Tangkuban Perahu 517,Kotak Pos 8413 Lembang 40391 - Jawa Barat - Indonesia.

Waktu Pelayanan

  • Senin s/d Kamis
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 12.00 - 13.00 WIB
  • Jumat
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 11.30 - 13.00 WIB
Connect With Us