Masakah Sayuran indigenouse

Satu-satunya cara berkelanjutan untuk memperbaiki status mikronutrien tubuh manusia adalah melalui pengintegrasian bahan pangan yang kaya akan mikronutrien ke dalam menu makanan. Sehubungan dengan itu, peningkatan konsumsi sayuran memiliki peran yang sangat penting, karena zat gizi yang terkandung pada sayuran seperti karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral dapat mengkoreksi gejala defisiensi mikronutrien. Namun demikian, upaya pengintegrasian ini sering terkendala oleh pasokan sayuran bersifat musiman yang mengakibatkan terjadinya fluktuasi harga, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap tingkat konsumsi. Salah satu upaya yang direkomendasikan untuk memecahkan masalah ini adalah melalui penggalian dan pemanfaatan spesies sayuran secara lebih beragam (AVRDC 1999), di antaranya adalah sayuran indigenous, seperti kemangi, katuk, gambas/oyong, kecipir, labu siam, leunca, paria, koro, dan selada air. Sayuran indigenous merupakan bagian dari keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia, dan Indonesia termasuk dalam tiga negara mega keanekaragaman hayati setelah Brazil dan Madagaskar (Baihaki 2003). Namun demikian, sampai sejauh ini perhatian terhadap sayuran indigenous yang merupakan sayuran asli daerah masih sangat kurang, bahkan cenderung ditinggalkan. Akibatnya, keberadaan kelompok sayuran indigenous ini kurang dikenal dan mulai terancam kepunahan, serta ada kecenderungan digantikan oleh beberapa spesies kultivasi. Baca Selanjutnya...

Sumber : Puslitbanghortikultura

favicon sertifikasi
BALAI PENELITIAN TANAMAN SAYURAN
Jl. Tangkuban Perahu 517,Kotak Pos 8413 Lembang 40391 - Jawa Barat - Indonesia.

Waktu Pelayanan

  • Senin s/d Kamis
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 12.00 - 13.00 WIB
  • Jumat
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 11.30 - 13.00 WIB
Connect With Us