Kentang siap bersaing

Salah satu jenis sayuran, yaitu kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan contoh sayuran penyumbang karbohidrat yang rendah lemak dan kalori. Dalam 100 gram kentang, terkandung 20,13 g karbohidrat yang dapat memenuhi 7% dari kebutuhan karbohidrat harian. Melihat potensi nutrisi kentang, menjadikan kentang sebagai alternatif dalam program ketahanan pangan dan diversifikasi pangan merupakan langkah yang tepat.
Varietas Unggul
Sampai tahun 2014, varietas kentang yang sudah dilepas/didaftarkan untuk peredaran sejumlah 33 varietas yang merupakan hasil introduksi, seleksi maupun persilangan. Dua puluh lima varietas di antaranya merupakan produk Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian melalui Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Varietas kentang yang dilepas di tahun-tahun terdahulu tingkat adopsinya rendah di tingkat petani, terkecuali varietas Granola L (jenis kentang sayur) dan Atlantik Malang (jenis kentang prosesing) yang merupakan hasil introduksi dari Jerman Barat (Granola) dan Amerika Serikat (Atlantik). Meskipun demikian beberapa varietas yang dilepas belakangan, mulai diminati petani dan penangkar benih.
Varietas GM 05 dan Andina merupakan jenis kentang sayur yang memiliki hasil umbi tinggi (29,1-35,8 t.ha-1dan 20,4-34,1 t.ha-1) dengan karakteristik umbi mirip Granola yang hasil umbinya 26,5 t.ha-1. Sedangkan untuk jenis prosesing, telah tersedia varietas Medians, Amabile dan Maglia, yang memiliki potensi hasil (berturut-turut adalah 24,9-31,9 t.ha-1, 25,7-29,2 t.ha-1, dan 24-29,2 t.ha-1) lebih tinggi daripada Atlantik Malang (8-20 t.ha-1). Bahkan varietas Maglia memiliki rendemen keripik yang tinggi. Ketiga varietas tersebut merupakan hasil perbaikan varietas Atlantik melalui persilangan dengan klon koleksi Balitsa. Varietas GM 05 telah dilisensi oleh PT. Pupuk Kujang dan varietas Medians dilisensi eksklusif oleh PT. Papandayan and Cikuray Farm. Sementara varietas Andina, Maglia dan Amabile juga sudah banyak yang berminat untuk melisensi.
Tantangan dan Peluang Litbang Kentang
Tantangan penelitian kentang ke depan utamanya meliputi: (1) Perubahan iklim yang menimbulkan Dampak Perubahan Iklim (DPI) berupa cekaman biotis dan abiotis, (2) Kentang merupakan sumber karbohidrat alternatif yang potensial dalam diversifikasi pangan dan mensubstitusi beras, dan (3) Keterbatasan lahan di dataran tinggi karena kebijakan tata ruang dan tata wilayah yang membatasi penggunaan lahan dataran tinggi untuk tanaman semusim.
Cekaman biotis yang masih menjadi masalah di tingkat petani adalah penyakit busuk daun yang disebabkan oleh Phytophthora infestans. Pergeseran musim dan curah hujan tinggi sebagai salah satu DPI memicu tingginya intensitas penyakit busuk daun. Peningkatan suhu udara di Indonesia berkisar 0,5 sampai 0,9°C juga diduga menyebabkan pergeseran organisme pengganggu tanaman (OPT) pada tanaman kentang. Salah satu contohnya adalah penyakit layu bakteri yang awalnya lebih berkembang di dataran rendah sampai medium dengan suhu hangat, dengan meningkatnya suhu di dataran tinggi menjadi muncul juga di pertanaman kentang di dataran tinggi. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam pemuliaan kentang, untuk merakit dan mengembangkan varietas kentang yang tahan OPT tersebut, bersamaan juga dengan inovasi teknologi budidaya dan pengendalian OPT.
Cekaman abiotik juga menjadi faktor pembatas produksi kentang. Kekeringan akibat kemarau panjang dan suhu tinggi menjadi masalah serius dan menuntut adanya varietas kentang yang toleran dan mampu berproduksi dengan baik pada kondisi sub optimal tersebut. Kendala utama produksi kentang di Indonesia adalah terbatasnya daerah yang bersuhu dingin. Kentang perlu suhu siang antara 17,7 sampai 23,7°C dan kisaran suhu malam 6,1 sampai 12,2° C. Suhu malam yang rendah diperlukan agar terjadi inisiasi ubi. Mendesaknya kebutuhan varietas kentang yang toleran suhu tinggi juga dilatarbelakangi oleh adanya kebijakan tata ruang dan tata wilayah yang membatasi penggunaan lahan dataran tinggi untuk tanaman semusim, sehingga pertanaman kentang diarahkan ke wilayah dataran rendah sampai medium dengan konsekuensi suhu tinggi.
Menghadapi tantangan-tantangan tersebut, diperlukan strategi riset yang dapat berupa: (1) Introduksi tetua sumber genetik novel gen sifat: tahan OPT, tahan kekeringan, tahan suhu panas, tahan salinitas, kandungan karbohidrat tinggi, kadar gula rendah, (2) Hibridisasi berkesinambungan melalui teknik konvensional, transformasi gen, maupun kombinasi keduanya, serta (3) Kolaborasi dengan berbagai lembaga pemerintah/swasta dalam hal: tukar menukar material genetik, kerjasama perekayasaan kentang dan kerjasama pengembangan varietas.
Serangkaian kegiatan litbang telah dilakukan mengikuti strategi tersebut. Introduksi tetua dilakukan dari Potato Research Center (CIP). Beberapa nomor telah dimanfaatkan sebagai tetua, seperti yang digunakan dalam perakitan varietas Medians, Amabile dan Maglia. Nomor-nomor lain yang memiliki sifat toleran suhu tinggi tengah diuji keunggulan setelah melalui pengujian adaptasi di dataran medium. Persilangan konvensional juga dilakukan menggunakan klon-klon introduksi dengan sifat tahan virus, layu bakteri, kekeringan dan suhu tinggi.
Sementara itu, pengujian ketahanan lapang klon-klon hasil persilangan terhadap penyakit busuk daun telah melewati tahap akhir dan siap masuk ke uji keunggulan. Klon AR 7 dan AR 8 yang merupakan hasil persilangan Atlantik X Repita, memiliki karakter tahan busuk daun dan kualitas umbi cocok untuk olahan. Klon lanjut tahan penyakit busuk daun AKRb 354, GKRb 204 dan AKRb 2844 merupakan contoh hasil kolaborasi pemuliaan konvensional dengan bioteknologi yang melibatkan lembaga lain. Seperti diketahui bahwa beberapa gen ketahanan busuk daun terdapat di kentang kerabat liar yang tidak kompatibel disilangkan dengan kentang budidaya. Sehingga dilakukan perekayasaan untuk memindahkan gen tahan tersebut (Rb) dilakukan melalui transformasi gen tersebut ke dalam genom kentang budidaya. Selanjutnya hasil regenerasi kentang yang tersisipi gen tahan tersebut disilangkan dengan kentang budidaya di Indonesia dan hasilnya adalah klon-klon tersebut di atas.
Penyediaan varietas unggul tentunya harus dibarengi dengan inovasi teknologi budidaya dan pengendalian OPT yang mendukung sehingga potensi genetik keunggulan dapat muncul optimal. Selain itu, penyediaan benih bermutu yang dapat menjamin kecukupan dan keberlangsungan benih juga menjadi poin penting dalam usaha budidaya kentang. Salah satu teknologi inovatif perbanyakan benih kentang adalah dengan teknik aeroponik. Kelebihan teknik ini antara lain: dapat dilakukan sepanjang tahun, tidak terpengaruh musim karena dilakukan di dalam rumah kasa, rasio perbanyakan benih yang dihasilkan lebih tinggi daripada dengan teknik konvensional (stek buku tunggal), benih bebas patogen. Ketersediaan inovasi teknologi yang dihasilkan melalui program Balitbangtan, yang meliputi varietas unggul, teknik budidaya, pengendalian OPT, penyediaan benih, yang saling terkait tersebut, diharapkan dapat mendukung penyediaan karbohidrat melalui komoditas kentang.


Sumber : Tabloid Sinar Tani

favicon sertifikasi
BALAI PENELITIAN TANAMAN SAYURAN
Jl. Tangkuban Perahu 517,Kotak Pos 8413 Lembang 40391 - Jawa Barat - Indonesia.

Waktu Pelayanan

  • Senin s/d Kamis
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 12.00 - 13.00 WIB
  • Jumat
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 11.30 - 13.00 WIB
Connect With Us