HPS 1 2014

Persiapan Gelar Teknologi Hari Pangan Sedunia (HPS) 2014 jadi tantangan tersendiri bagi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan). Acara yang diselenggarakan pada 6-11 November itu bertempat tak jauh dari Pantai Losari, Makassar, tepatnya di Taman Maccini Sombala.
Para staf Balitbangtan harus berhadapan dengan cuaca panas dan kelangkaan air, “musuh bebuyutan” pertanian. Belum lagi luas wilayah plot demonstrasi yang sempit, hanya 400 meter persegi.

Kepala Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian, Ir Gayatri K Rana mengaku sempat kewalahan. Sejak tiga bulan lalu, pihaknya telah bekerja keras mengangkut top soil, menampung air, menyiram tanaman, dan melakukan pemupukan. Karena suhu Makassar siang hari bisa mencapai 50 derajat Celsius, menjaga suplai air ke tanaman jadi tantangan tersendiri.

Tapi bukan Litbang namanya kalau tidak bisa mengubah kekurangan jadi kelebihan. Keterbatasan itu justru menunjukkan pentingnya inovasi. Lokasi gelar teknologi Balitbangtan akan diisi dengan berbagai hasil inovasi hasil penelitian pertanian perkotaan (urban farming), antara lain Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Sebanyak 6 rumah dijadikan model untuk berbagai varietas tanaman pangan sumber protein, karbohidrat, dan obat, serta tanaman hias.

Program Unggulan

Hal itu pas dengan tema HPS ke-34, “Pertanian Bioindustri Berbasis Pangan Lokal Potensial”. KRPL merupakan salah satu program unggulan Balitbangtan yang diharapkan dapat mendukung upaya mencapai ketahanan pangan. Inovasi ini didorong untuk diterapkan di daerah perkotaan atau daerah lainnya yang tidak memiliki lahan luas, dengan jenis tanaman beragam disesuaikan dengan kondisi geografis wilayah dan kebutuhan rumah tangga itu sendiri.

Selain KRPL, Balitbangtan juga akan mendemonstrasikan teknologi bioenergi dari sorgum. Batang sorgum manis, bagase (hasil perasan nira), dan bijinya dapat diolah menjadi etanol setelah melalui proses ekstraksi. Varietas yang telah dikembangkan Balai Penelitian Tanaman Serealia salah satunya adalah SUPER (Sorgum untuk Pangan dan etanol), yang mampu menghasilkan bioetanol dari biji, bagase, dan nira sebesar 3000-4000 liter/ha.

Sorgum yang telah diolah menjadi etanol dapat dimanfaatkan sebagai pengganti bahan bakar minyak tanah dengan kadar etanol 40-60%, untuk kebutuhan laboratorium dan farmasi 70-90%, dan sebagai bahan substitusi premium 90-100 persen.

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 35

favicon sertifikasi
BALAI PENELITIAN TANAMAN SAYURAN
Jl. Tangkuban Perahu 517,Kotak Pos 8413 Lembang 40391 - Jawa Barat - Indonesia.

Waktu Pelayanan

  • Senin s/d Kamis
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 12.00 - 13.00 WIB
  • Jumat
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 11.30 - 13.00 WIB
Connect With Us