DSC 1918

Kelangkaan komoditas pertanian, seperti bawang merah dan cabai hingga berimbas pada tingginya harga, terjadi berulang saban tahun. Jurus ampuh disiapkan Balitbangtan untuk meredam gejolak harga.

Inovasi yang tiada henti diyakini akan mampu menjadi solusi, mengatasi lonjakan harga ketika produksi dirasa sulit memenuhi permintaan pasar. Menghasilkan benih varietas unggul yang produktif dan adaptif pada iklim, merupakan upaya Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) untuk mengatasi kurang pasokan yang memicu terjadinya gejolak harga.
Kepala Balai Besar Pengkajian dan Penerapan Teknologi Pertanian (BBP2TP) Agung Hendriadi mengatakan Balitbangtan terus menggali inovasi untuk mengimbangi begitu cepatnya perkembangan teknologi. Selain itu, disadari pula bahwa hanya inovasi-inovasi yang up to date, yang akan menjawab tuntutan zaman seiring kebutuhan bahan pangan dunia yang terus meningkat dan semakin beragam. Untuk komoditas pertanian yang rentan mengalami gejolak harga, yakni bawang merah dan cabai, Balitbangtan telah menemukan inovasi benih varietas unggul terkini.
“Inovasi harus terus dikembangkan. Sebab, ketika kita menemukan teknologi A belum tentu itu akan bisa bertahan lama karena alam juga semakin cepat berubah. Kita tidak boleh berhenti meskipun sudah menemukan inovasi yang unggul,” kata Agung.
Saat ini Balitbangtan memperkenalkan inovasi benih bawang merah varietas unggul yang memiliki beberapa kelebihan. Kelebihan tersebut, di antaranya tetap produktif meskipun ditanam saat bukan musim tanam (off season), umur tanam singkat, dan toleran ditanam di lahan basah termasuk di lahan rawa. Tanaman bawang merah umumnya ditanam saat bukan musim hujan dan di lahan yang tidak tergenang air, serta rentan mengalami serangan penyakit.
Daerah Mandiri
Bawang merah varietas Trisula, Sembrani, Maja Cipanas, Bima Brebes, dan Pancasona adalah inovasi terbaru Balitbangtan yang telah diujicoba penanamannya di Kalimantan Tengah (Kalteng), di lahan-lahan rawa atau gambut. Hasilnya bagus, bawang merah varietas unggul tersebut tumbuh dengan baik dan sangat toleran terhadap iklim basah.
“Produktivitas bagus. Artinya, Kalteng siap memenuhi sendiri kebutuhan bawang merahnya, tidak perlu lagi bergantung pada pasokan dari Jawa. Bahkan, jika penanaman diperluas Kalteng bisa memasok ke daerah lain di Kalimantan,” kata Agung.
Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 33

favicon sertifikasi
BALAI PENELITIAN TANAMAN SAYURAN
Jl. Tangkuban Perahu 517,Kotak Pos 8413 Lembang 40391 - Jawa Barat - Indonesia.

Waktu Pelayanan

  • Senin s/d Kamis
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 12.00 - 13.00 WIB
  • Jumat
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 11.30 - 13.00 WIB
Connect With Us