Cabai Merah

MENJELANG Lebaran, harga berbagai komoditas penting akan melonjak, salah satunya cabai merah yang harganya akan selangit. Namun, pembeli tidak bisa berbuat apa-apa karena membutuhkan cabai sebagai kebutuhan pokok.
Cabai merah (Capsicum annuum) termasuk famili Solana-ceae dan merupaka salah satu komoditas sayuran yang memiliki banyak manfaat bernilai ekonomi tinggi, dan mempunyai prospek pasar yang menarik. Salah satu penyebab tingginya harga cabai di pasar adalah serangan hama sehingga petani gagal panen. Oleh karena itu, cabai merah sulit didapat di pasar. Kalaupun ada, harganya pasti tinggi.
Beberapa penyakit yang dapat menyerang tanaman cabai di antaranya layu bakteri, layu fusarium, bercak daun dan buah (antraknose), bercak alternaria, busuk daun dan buah, serta virus. Di antara sejumlah penyakit tersebut yang paling sering ditemui adalah antraknose.
Penyakit ini selalu menjadi masalah utama di musim hujan. Penyakit ini kian mewabah di musim yang ekstrem ini. Antraknose disebabkan oleh cendawan Gloesporium piperatum Ell dan Colletotrichum capcisi. Dua cendawan itu pada umumnya menyerang buuah muda dan menyebabkan mati ujung. Gejalanya sendiri ditandai dengan terbentuknya bintik-bintik kecil kehitaman dan berlekuk serta tepi bintik berwarna kuning.
Menurut peneliti di Badan Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) Tonny K Moekasan, di saat musim hujan, kelembapan tinggi mempermudah perkembiakan antraknose. Terburuk, cabai akan cepat membusuk. Gejala serangan itu ditandai dengan terbentuknya bercak-bercak coklat kehitaman pada buah kemudian meluas menjadi busuk lunak. Pada bagian tengah terdapat titik-titik hitam yang merupakan kumpulan dari konidium cendawan. “Serangan yang berat menyebabkan buah cabai mengerut dan mengering dengan warna buah seperti jerami,” kata Tonny.
Hal lain ayang perlu diwaspadai adalah adanya virus kuning atau yang lebih dikenal dengan sebutan penyakit bule. Salah satu faktor penyebabnya adalah penyebaran virus yang bukan dibawa oleh orang. Virus ini biasanya dibawa oleh tanaman lain seperti rumput liar
Penyakit-Penyakit tersebut, kata Tonny, lebih disebabkan karena perilaku petani yang jorok dalam memperlakukan tanaman cabai. Akibatnya, tanaman lebih rentan diserang penyakit. Petani pun terpaksa merugi karena gagal panen.
Tonny menyebutkan, untuk menghindari penyakit menyerang tanaman cabai, caranya terbilang mudah. Yang terpenting adalah persoalan sanitasi lahan. Petani tidak membiarkan adanya air yang tergenang, drainase yang baik, dan rumput-rumput penggangu. Untuk mencegah serangan antraknose , ketika tanaman cabai berbunga, semprotkan Ion-M (bukan fungisida).
Fungsi lainnya juga dapat menstimulas ketahanan tanaman terhadap penyakit. Semprotkan sekali dalam seminggu hingga waktu panen. “Namun, jangan sekali-sekali menyemprotkan ketika tanaman sudah terserang. Ketika sudah diserang antraknose, kemudian disemprot, penyakit akan mudah menyebar,” kata Tonny.
Untuk menghindari virus kuning, pada umur 1-2 minggu di persemaian siramkan insektisida. Setelah dipindah ke lapangan, perlakukan denga aktara untuk mencegah. Dalam radius 50 meter, tanaman harus jauh dari rumput-rumput liar karena rummput tersebut merupakan sumber infeksi. Selain itu, pola tanam dapat menggunakan pagar dengan tanaman jagung.
Tonny juga mengatakan, persoalan pengangkutan terkadang kurang di perhatikan petani. Seharusnya, petani memilih panen pada saat cuaca cerah sehingga kondisi tanaman tidak basah. Demikian pula dengan pengepakan haruslah baik. Tanaman cabai yang baru saja dipanen dikemas dalam kemasan dengan ventilasi udara. (Dewiyatini/”PR”)***


 Sumber : Pikiran Rakyat

favicon sertifikasi
BALAI PENELITIAN TANAMAN SAYURAN
Jl. Tangkuban Perahu 517,Kotak Pos 8413 Lembang 40391 - Jawa Barat - Indonesia.

Waktu Pelayanan

  • Senin s/d Kamis
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 12.00 - 13.00 WIB
  • Jumat
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 11.30 - 13.00 WIB
Connect With Us