news 11 1409021588Virus menjadi musuh bebuyutan petani bawang merah. Salah satu trik memotong siklus serangan virus melalui penanaman bawang merah biji (true seed shallot /TSS). Tapi ternyata cara tersebut juga tak mudah. Banyak petani gagal mengaplikasikan teknologi tersebut.
Teknologi TSS memang memberikan harapan baru bagi petani bawang, terutama mencegah serangan virus. Apalagi hasil penelitian Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang hampir 90%, bahkan 100% bawang merah di Brebes tertular virus. Serangan virus ini memang tidak mematikan. Tapi dampaknya adalah merosotnya produksi andalan Kabupaten Brebes ini.
Nah, salah satu cara memotong siklus serangan virus tersebut adalah dengan menanam bawang merah menggunakan biji. Diketahui serangan virus berkembang melalui benih bawang merah asal umbi (vegetatif), yang telah dilakukan petani selama ini.
Awalnya, penggunaan TSS memberikan secercah harapan bagi petani. Pertama, benih tersebut bebas pathogen tular (virus, bakteri dan jamur). Kedua, dapat mencukupi kebutuhan benih bermutu. Ketiga, menghemat biaya distribusi. Keempat, lebih kuat disimpan hingga 2 tahun. Kelima, praktis karena hanya perlu 4 -7 kg benih per ha.
Namun ternyata aplikasi di lapangan tidak semudah teori. Penanaman TSS di lahan produksi sering gagal. Pernah dicoba dengan menyemai dulu, ternyata saat umur 40 hari dipindah tanam hanya menghasilkan 50%. Faktor lainnya adalah, mengubah kebiasaan petani yang menanam dengan umbi ke TSS juga tak mudah.
Untuk mengatasi masalah tersebut peneliti di BPTP Jawa Tengah yakni, Bambang Prayudi, Retno Pangestuti dan Aryana Citra Kusumasari memperkenalkan teknologi perbenihan bawang merah dengan biji melalui produksi umbi mini. Demplot TSS dilakukan untuk varietas Bima, Trisula (produksi Balai Penelitian Tanaman Sayuran) dan Tuk Tuk (produksi PT. East West). Dengan sistem tabela dengan kerapatan 1,1 g/m2 (jarak tanam 15 cm antar garitan) dan 1,6 g/m2 (jarak tanam 10 cm antar garitan).
Uji lapang yang dilakukan di lahan visitor Plot BPTP Jawa Tengah, Jalan BPTP No 40. Bukit Tegalepek, Sidomulyo, Ungaran, sukses dipanen 12 Agustus lalu. Panen perdana dihadiri Direktur Perbenihan yang diwakili M. Muning Ekowati, Kepala BPTP Jawa Tengah, Moh. Ismail Wahab, Kepala Dinas Pertanian dan Hortikultura Provinsi Jawa Tengah diwakili Ani Mulyani, Penanggungjawab KKP3SL SMARTD, Sumedi dan Kabid PP Set Bakorluh Jateng, Eko Partono.
Dari uji lapangan tersebut, keragaan pertumbuhan tanaman sangat baik dan berpotensi menghasilkan benih bawang merah bermutu tinggi, berdaya hasil tinggi dan bebas patogen termasuk virus. Jarak tanam terbaik untuk menghasilkan umbi mini adalah 10 cm (1,6 g/m2). Bahkan masih dapat ditingkatkan kerapatannya hingga 2 g/m2 untuk meningkatkan persentase produksi umbi mini.
Produksi rata-rata ketiga varietas adalah 2,8 kg/m2 umbi basah atau setara 1,5 kg umbi kering/m2. Dengan asumsi dalam setahun dapat diproduksi 3 kali tanam umbi mini, maka hasil ini setara dengan 25.65 ton/ha umbi mini kering (siap tanam). Joko W/Yul

Sumber : Tabloid Sinar Tani

favicon sertifikasi
BALAI PENELITIAN TANAMAN SAYURAN
Jl. Tangkuban Perahu 517,Kotak Pos 8413 Lembang 40391 - Jawa Barat - Indonesia.

Waktu Pelayanan

  • Senin s/d Kamis
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 12.00 - 13.00 WIB
  • Jumat
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 11.30 - 13.00 WIB
Connect With Us