MentimunSiapa yang tak kenal mentimun? Komoditas yang satu ini sudah sangat akrab di masyarakat, apalagi bagi petani. Mentimun menjadi lalapan bagi tiap rumah tangga Indonesia. Bahkan rumah makan besar maupun kecil, mentimun selalu tersedia.
Untuk mendapatkan juga sangat mudah. Dari warung kecil hingga supermarket, komoditi ini selalu tersedia. Bagaimana harganya? Lalapan yang satu ini harganya sangat terjangkau kocek rakyat. Meski mudah mendapatkan, tapi tak semua bisa membudidayakan.
“Walaupun mudah untuk mendapatkannya, kami yakin untuk memproduksinya belum semua tahu. Perlu belajar, perlu memahami dan kalau sudah yakin perlu mencoba,” kata Kepala BP3K Cikeusal, Serang, Sutisna.
Menurut dia, banyak petani yang enggan membudidayakan mentimun karena harganya bisa turun sampai Rp 500/kg. Tapi banyak juga yang justru ketagihan saat harganya sedang baik hingga Rp 4.000-7.000/kg dan produksinya maksimal. “Bahkan ada petani yang bisa naik haji karena menanam mentimun, sehingga mendapat julukan Haji Timun,” katanya.
Catatan petani Cikeusal, biaya produksi budidaya mentimun dengan luas lahan 1 ha mencapai Rp 40 juta. Jika produksi mentimun mencapai 40 ton/ha dan harganya rata-rata Rp 2.000/kg, maka petani akan mendapatkan penghasilan sekitar Rp 80 juta. Dikurangi 5% pajak sebesar Rp 4 juta, setidaknya petani memperoleh keuntungan bersih sebesar Rp 36 juta.
“Penghasilan itu cukup untuk ongkos naik haji sudah mencukupi. Jadi dengan kemampuan memadai baik, teknologi maupun modal, kenapa harus berpikir seribu kali untuk mendapat keuntungan bersih Rp 36 juta dalam waktu tiga bulan?”, tutur Sutisna.
Apalagi jika harga mentimun mencapai Rp 3.000/kg, maka pendapatan petani bisa mencapai Rp 74 juta. “Dengan pendapatan sebesar itu, yang berangkat haji bisa pasangan suami istri. Sungguh menggiurkan bukan?”, ujarnya.
Namun demikian Sutisna mengakui, petani juga punya resiko ketika harga pasar hanya Rp 500/kg. Jika produksinya 40 ton/ha, maka petani hanya mendapatkan Rp 20 juta. Artinya, petani harus menanggung resiko Rp 20 juta. Apalagi kalau hasil produksinya tidak optimal, maka bisa gagal total.
Karena itu Sutisna menyarankan, agar berhasil dalam agribisnis timun harus benar-benar memperhatikan beberapa hal. Pertama, teknologi yang berkaitan dengan timun harus dikuasai dan diterapkan dengan penuh disiplin serta tanggungjawab tinggi. Kedua, informasi pasar harus benar-benar dikuasai. Mulai dari intelejen pasar, survey pasar, kebutuhan pasar, jaminan harga dan jaminan penerimaan pasokan.


Sumber : Tabloid Sinar Tani

favicon sertifikasi
BALAI PENELITIAN TANAMAN SAYURAN
Jl. Tangkuban Perahu 517,Kotak Pos 8413 Lembang 40391 - Jawa Barat - Indonesia.

Waktu Pelayanan

  • Senin s/d Kamis
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 12.00 - 13.00 WIB
  • Jumat
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 11.30 - 13.00 WIB
Connect With Us