Haryono AARNETKepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Dr. Haryono yang didampingi Dr. Jacqueline Hughes, Deputy Director GeneralResearch AVRDC the World Vegetable Center, membuka Pertemuan 9thAARNET Steering Committee Meeting of the ASEAN AVRDC Regional Network for Vegetable Research and Development dan Expert Consultation on Vegetable Post Harvest Research and Development in Southeast Asia tanggal 13 Maret 2013 di Bandung, Jawa Barat. Turut hadir pada pertemuan tersebut Dr. Robert Holmer, Regional Director AVRDC the World Vegetable Center – East and Southeast Asia, Dr. Bambang Hesti Susilo, Asean Sectoral Working Group Crops, Experts of post Harvest dan Delegasi negara-negara ASEAN.
Tujuan pertemuan tersebut adalah untuk mengindentifikasi berbagai permasalahan yang berkaitan dengan pascapanen serta kerjasama dari berbagai lembaga riset khususnya di Asia Tenggara untuk menanggulanginya. Sayuran merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki pangsa pasar yang luas baik di pasar lokal, regional maupun pasar global. Sayuran bisa dibudidayakan secara sederhana (tradisional) maupun moderen dalam skala kecil maupun agribisnis. Permintaan akan komoditas sayuran setiap tahunnya selalu meningkat, ragam dan jenisnyapun selalu berubah seiring dengan dinamika perubahan tingkat ekonomi dan budaya masyarakat. Karena itulah Badan Litbang Pertanian merasa tertantang untuk melakukan inovasi guna mengimbangi dinamika permintaan konsumen. Penanganan pascapanen yang meliputi pemanenan, penyimpanan, pengolahan, pengemasan pengangkutan dan pemasaran yang dilakukan dengan tepat memiliki dampak besar pada kualitas sayuran dan pendapatan petani. Hasil survei menunjukkan bahwa kerugian akibat penanganan pascapanen yang tidak tepat di Asia Tenggara mencapai 30%.
Pada keterangan persnya Dr. Haryono mengatakan bahwa Pertemuan AARNET (ASEAN-AVRDC Regional Network for Vegetable Research and Development), membahas mengenai pertukaran informasi, pengalaman dan teknologi. Pertemuan para ahli hortikultura yang terkait dengan riset dan pengembangan, teknologi penelitian pascapanen sayuran dilakukan dengan anggota AVRDC secara bergantian, penyelenggaranya AVRDC yang berada diTaiwan dengan beberapa anggota antara lain; Indonesia, Malaysia, Thailand,Brunei Darussalam, Tanzania, dan lain-lain. Pertemuan ini tidak terfokus pada teknologi pascapanen semata tetapi juga pada kebijakan yang dapat mendukung sistem produksi, reflikasi, pengelolaan hortikultura agar dapat meningkatkan infrastruktur hortikultura.
Pada pertemuan tersebut Kepala Balitbangtan juga menyinggung keberadaan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) di Indonesia. Program KRPL telah mencapai lebih dari 6.400 unit yang mencakup 1.400 unit M-KRPL dan 5.000 unit KRPL. Menurut beliau, dalam satu atau dua tahun, perkembangan simultan program KRPL di seluruh wilayah Indonesia akan mempercepat upaya peningkatan produksi pangan dan pendapatan keluarga baik di pedesaan maupun perkotaan. Keberlanjutan program KRPL diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam menjaga stabilitas harga beberapa komoditas strategis, seperti cabai, bawang merah dan beberapa komoditas lainnya. Keberadaan KRPL di Indonesia diharapkan bisa menjadi inspirasi para anggota AVRDC sebagai sistem produksi hortikultura dan masuk kedalam program family farming di negaranya.

 

Sumber : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

favicon sertifikasi
BALAI PENELITIAN TANAMAN SAYURAN
Jl. Tangkuban Perahu 517,Kotak Pos 8413 Lembang 40391 - Jawa Barat - Indonesia.

Waktu Pelayanan

  • Senin s/d Kamis
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 12.00 - 13.00 WIB
  • Jumat
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 11.30 - 13.00 WIB
Connect With Us