Hujan yang terus berlangsung pada musim kemarau tentu akan mempengaruhi produktivitas tanaman sayuran. Terutama, meningkatnya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). sebagai lembaga yang mempunyai tanggungjawab menciptakan varietas unggul komoditas sayuran, Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa),Lembang berupaya menciptakan varietas yang adaptif perubahan iklim.

Kepala Balitsa, Badan Litbang Pertanian, Liferdi Lukman mengatakan, pihaknya sudah berhasil menemukan beberapa varietas tahan terhadap perubahan iklim. Di antaranya kentang dan cabai keriting yang tahan terhadap iklim basah. Untuk kentang, terdapat varietas yang mirip kentang impor atlantik yang tahan terhadap penyakit busuk daun (Phytopthora infestans). Penyakit busuk daun sendiri biasanya terjadi karena lingkungan yang terlalu lembab.

Menurutnya, dengan varietas toleran penyakit busuk daun tersebut, otomatis akan mengurangi penggunaan pestisida. Hal ini sangat sesuai untuk pertanian kentang organik.

Selain itu, biaya untuk budidaya varietas kentang akan jauh lebih rendah dibandingkan kentang lainnya. Biasanya petani harus mengeluarkan kocek untuk satu hektar lahan hingga Rp 75 juta. Tapi dengan menggunakan varietas kentang terbaru hasil penelitian Balitsa, biaya yang petani keluarkan hanya Rp 40 juta per ha.

“kami harapkan Nopember mendatang, varietas kentang terbaru ini bisa segera dikenalkan ke publik. Ada tiga varietas kentang toleran terhadap iklim basah. Salah satunya adalah varietas Repita,” papar Liferdi.

Selain kentang, ada varietas cabai keriting yang toleran terhadap iklim basah, yaitu varietas Kintana. Rata-rata produksi cabai Kintana sebanyak 12 ton per ha. Dari hasil uji coba di daerah yang rentan terhadap banjir, cabai varietas ini tidak gagal panen, bahkan produktivitasnya hingga 17 ton per ha.

Tidak hanya menciptakan varietas toleran terhadap iklim basah, teknik budidaya pertanaman pun diusung Balitsa. Berdasarkan penuturan Liferdi, salahsatu teknik budidaya sayuran mengahadapi iklim kemarau basah ini adalah penggunaan netting house (rumah jala).

Pembangunan netting house sendiri untuk menghindari tanaman sayuran dari serangan OPT. selain itu, hemat karena tidak di perlukan penggunaan pestisida. Sangat sesuai untuk menghasilkan benih sumber. Teknologi budidaya lainnya adalah penggunaan jagung sebagai tanaman sela di areal cabai. Hal ini untuk mengahalangi serangan OPT masuk areal tanaman cabai. “teknologi budidaya ini dinamakan proteksi alam,” katanya.

Untuk teknologi perbenihan, Balitsa kini mengembangkan budidaya bawang merah tidak dengan umbi, melainkan biji. Nama benihnya adalah TSS. Menurut Liferdi, uji ini sedang dilakukan di tiga daerah yakni, Lembang (Jawa Barat), Batu (Malang), Brastagi (Sumatera Utara).

Keuntungan pertanaman bawang merah dengan biji adalah tahan OPT. bahkan lebih efisien karena untuk mengirim benih ke luar kota, tidak memakan tempat dan biayanya lebih rendah. Bahkan produktivitas budidaya bawang merah biji bisa mencapai dua kali lipat dibandingkan yang umbi.


Sumber : Tabloid Sinar Tani

 

favicon sertifikasi
BALAI PENELITIAN TANAMAN SAYURAN
Jl. Tangkuban Perahu 517,Kotak Pos 8413 Lembang 40391 - Jawa Barat - Indonesia.

Waktu Pelayanan

  • Senin s/d Kamis
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 12.00 - 13.00 WIB
  • Jumat
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 11.30 - 13.00 WIB
Connect With Us