TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh -- Safaruddin alias Safa (34) adalah seorang pemuda asal Lhoknibong, Aceh Timur, yang dulunya menanam Ganja, akhirnya sadar. Dia pergi tinggalkan kampung halamannya, untuk mengadu nasib dan merantau ke Lamteuba, Aceh Besar.

Alhamdulillah, akhirnya tahun 2006 dia bertemu dengan orang yang tepat, namanya Muslahuddin Daud banking yang resign dari World Bank, beralih profesi menjadi pemerhati lingkungan dan aktivis bidang pertanian.

Safa adalah sosok pemuda milenial, yang pernah terjerumus ke jalan yang salah. Namun dari kepribadiannya dia berperilaku baik dan sangat sopan. Itu terlihat dari gerak geriknnya maupun saat dia bertutur kata.

Pada usianya yang mulai beranjak dewasa (26 tahun), dia mempersunting seorang gadis kampung yang berhasil memikat hatinya... Kini pernikahannya sudah berjalan hampir lima tahun. Dari hasil pernikahannya, sekarang Safa sudah dikaruniai dua orang anak. "Istri saya tidak bekerja Bang, hanya sebagai ibu rumah tangga biasa namun bisa mengurus anak", timpalnya.

"Waktu kenal dengan Pak Muslahuddin Daud sejak 2006, dan mulai tahun 2008 diajak Pak Mus membuka kebun di Lamteuba", kenang dia mulai bercerita...

Pertama sekali dia belajar sebagai petani, diajak menanam Pepaya Merah Delima (MD), yang beritanya sempat viral di media masa lokal, Website BPTP Aceh dan juga di Web Balitbu Solok. Karena judulnya sangat heboh dan provokatif "Pepaya MD, Bukan Muslahuddin Daud".

Dia bekerja tidak sendiri, ada tujuh orang lagi temannya yang tinggal di lokasi tersebut. "Disini ada teman teman saya juga, Dahrun, Nazar, Farhan, Mirza, Syahnin dan Hakim", sambungnya.

Dirinya yang ditunjuk sebagai ketua kelompok, menjawab bahwa semuanya rajin. "Tidak ada temannya yang bermalas-malasan, karena semua sudah tau dengan tugasnya masing-masing", bebernya.

Bangun tidur tidak perlu dibangunkan lagi dan bahkan tidak perlu diatur apalagi diperintah. Karena katanya, setiap bangun tidur mereka langsung bekerja tanpa tunggu aba-aba lagi.

Setelah mandi dan sarapan, setiap harinya mulai pukul 8 pagi, semua turun ke lapangan dan bekerja hingga pukul 11 siang. Kemudian beristirahat, makan dan sholat. Selanjutnya jam 15.00 bekerja kembali hingga sore pukul 17.00 wib.

Kalau teman temannya yang lain, tetap tidur dan tinggal di lokasi dengan fasilitas yang ada. Sementara Safa, seminggu sekali pulang kerumah bertemu anak dan keluarganya di desa Lambada, dekat dengan tempatnya bekerja.

Dengan mengenal Pak Mus kami sangat senang, karena semua kebutuhan setiap harinya bisa terpenuhi dari kebun. Hal ini dilakukan semata demi menjemput masa depan yang lebih baik. "Untuk itu, kita harus sabar dan disiplin dalam menaungi hidup dan kehidupan ini", ingatnya.

Dia mengaku selama tinggal dan bekerja di lokasi P4S Lamteuba sangat banyak perubahan ke hal hal positif. Dia juga mengimbau agar remaja tidak terlibat dalam kehidupan Narkoba yang merajalela. Kita hidup jangan mencari masalah lagi, karena masalah kita sendiri sudah banyak. Dari itu kata dia, jangan membuat masalah lagi, untuk apa kita banyak duit, sementara tidur tak nyenyak dan hidup pun tak tenang.

"Apalagi kalau sudah berkeluarga dan punya anak, sayangi keluarga dan jaga anak yang dititipkan sama kita", tambahnya.

Dari raut wajah dan bola matanya terpancar kesedihan yang mendalam. Dirinya terkenang kembali masa remajanya, yang ditinggal sosok ayah tercinta tahun 2002.

Tidak kurang, 50 petani milenial yang mengelola lahan seluas 30 hektar. Untuk kegiatan sehari hari mereka mendapat insentif sebesar Rp.100.000 per hari. Namun kalau ingin berekspresi dan mengembangkan usaha sendiri akan mendapat hasil jauh lebih besar lagi.

Menurut pengakuan Safa panggilan akrabnya, "sewaktu menanam ganja dirinya walaupun tidak pernah di tahan, tapi selalu dikejar kejar oleh aparat berwenang dan selalu gelisah, hidup pun tidak pernah tenang", ungkitnya.

Dengan bekerjasama dengan BNN dan Baitulmal, Muslahuddin merekrut anak anak muda yang salah jalan untuk dibina menjadi lebih berguna bagi dirinya sendiri dan masyarakat sekitar.

Kebun seluas 30 hektar, ditanam beraneka ragam jenis tanaman seperti Pisang, Alpukat, Bawang Merah, Cabai Merah dan Jagung.

Untuk penanaman Jagung menggunakan benih Pioner 35, binaan BNN 30 ha, dapat menghasilkan rata-rata 8,1 ton/ha. Kemudian Baitulmal juga ada sekitar 30 hektar. Pemberian pupuk hanya NPK 100 kg/ha ditambah pupuk bio organik stimulant (BOS) dan pupuk organik cair (POC). Sementara kalau yang pertama benih Jagungnya Bisi 226.

Sumber : TABLOIDSINARTANI.COM

favicon sertifikasi
BALAI PENELITIAN TANAMAN SAYURAN
Jl. Tangkuban Perahu 517,Kotak Pos 8413 Lembang 40391 - Jawa Barat - Indonesia.

Waktu Pelayanan

  • Senin s/d Kamis
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 12.00 - 13.00 WIB
  • Jumat
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 11.30 - 13.00 WIB
Connect With Us