Lembang -- Kebutuhan kentang untuk industri olahan semakin terbuka lebar. Namun tak hanya untuk industri di dalam negeri, kebutuhan kentang di pasar ekspor juga terbuka. 

Kentang di Indonesia selama ini hanya dikenal sebagai bagian tanaman sayuran dengan harga yang tidak terlalu berpengaruh pada pendapatan petani. Tapi tahukah Anda kalau di luar negeri, kentang menjadi salah satu makanan pokok dan camilan yang paling digemari sehingga harganya pun mendongkrak pendapatan petani disana.

Negara-Negara Eropa Barat dan pecahan Rusia seperti Belarus, Kirgyztan, Ukraina, Rusia, hingga Polandia menjadi negara dengan tingkat konsumsi kentang paling banyak di dunia, per hari bisa mencapai ½ kilogram kentang untuk kebutuhan pangan mereka. Belum lagi industri kentang olahan untuk camilan seperti French fries, keripik, mashed potato dan lainnya menjadikan kebutuhan kentang semakin tinggi di pasar ekspor.

Sedangkan di dalam negeri, industri makanan khususnya camilan juga meningkat pesat dan kebutuhannya sampai 100 ton per hari untuk industri keripik dipenuhi dari pasar impor, begitupula industri French fries yang membutuhkan kentang sampai 112 ton per hari masih belum bisa dipenuhi pasar dalam negeri. 

Harga pembelian di tingkat industri pun sebenarnya menggiurkan bisa mencapai Rp 50 ribu sampai Rp 75 ribu per kilogram untuk industri keripik. Beberapa industri rumahan untuk keripik kentang pun sudah mulai bermunculan dan membutuhkan kriteria kentang olahan. 

Berdasarkan data dari Ditjen Hortikultura, luasan tanam kentang di Indonesia baru mencapai 75,610 hektar di seluruh Indonesia dengan produksi  1,164,738 ton per tahun dan rata-rata hasil 16 ton/hektar. Namun sayangnya, lebih dari 80 persen kentang yang ditanam adalah jenis kentang sayur. 

Industri Dalam Negeri

Salah satu industri UMKM yang telah mengolah kentang dalam negeri adalah Saghara Agri dengan keripik kentang merek Medianku. “Sampai sekarang belum banyak UMKM yang tahu kalau ada kentang lokal (Medians) yang bisa diolah menjadi beragam olahan kentang,” ungkap Kepala Divisi Pemasaran Saghara Agri, Badai Sagara.

Badai mengaku sejak awal menjadi partner dari Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) untuk memperluas (diseminasi) varietas Medians yang memang memiliki kriteria yang cocok untuk industri olahan kentang. “Kita adalah penangkar benih G-nol (G0) dari varietas Medians dan karenanya, kami membuat keripik kentang dari varietas ini sebagai pembuktian kentang dalam negeri juga bisa digunakan untuk industri kentang,” tuturnya.

Tak hanya mengeluarkan dalam bentuk olahan keripik kentang, Saghara Agri juga mencoba (trial and error) olahan lainya yang dibutuhkan industri hotel restoran dan katering dengan menggunakan kentang Medians.

“Mulai dari French fries, mashed potato, sampai baked potato. Responnya, cukup positif dari segi tekstur dan rasa yang disesuaikan dengan standar hotel dan restoran. Hanya saja, ukurannya masih belum bisa sesuai dan sulit masuk market,” tambahnya.

Kini keripik kentang Medianku dari Saghara Agri sudah menembus pasar Jabodetabek dengan sistem reseller. “Dalam setiap kemasan Medianku, kita sertakan informasi mengenai kentang Medians yang menjadi bahan baku dan dibudidayakan oleh petani di Lembang,” ungkapnya.

Sumber : www.tabloidsinartani.com

favicon sertifikasi
BALAI PENELITIAN TANAMAN SAYURAN
Jl. Tangkuban Perahu 517,Kotak Pos 8413 Lembang 40391 - Jawa Barat - Indonesia.

Waktu Pelayanan

  • Senin s/d Kamis
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 12.00 - 13.00 WIB
  • Jumat
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 11.30 - 13.00 WIB
Connect With Us