JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Mengejar Matahari, Demi Tanam Cabai

Pukul 09.30 mulai menyusuri gang-gang di Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, bersama dua Ibu PKK, untuk melihat perkembangan tanaman cabai, sungguh pengalaman yang menarik. Kelurahan di tengah kota Bogor dengan luas wilayah 42 hektare, berada pada ketinggian 450 mdpl, dapat dicapai dengan mudah melalui Jalan Otista, belok kiri masuk Jalan Roda yang berada di tengah pasar Bogor. Wilayah ini terdiri 10 RW dengan 39 RT, dengan jumlah penduduk lebih 10.000 jiwa. Wilayah yang padat.

Cabai di kelurahan Babakan Pasar ditanam di rumah-rumah dan fasilitas umum seperti Posyandu, kantor RW, bahkan di balkon mushala yang terletak di lantai dua sebuah rumah. Anggota PKK dan warga yang mendapat benih cabai berupaya menanam dan merawat dengan sungguh-sungguh, menyesuaikan kondisi rumahnya. Emperan rumah yang dipisahkan oleh gang dimanfaatkan warga untuk meletakkan tanaman cabai yang ditanam di pot, kaleng bekas, polybag, bekas botol kemasan air mineral, bahkan bekas kemasan ayam goreng terkenal. Diletakkan juga di meja layaknya tanaman hias, dipasang di dinding menyatu dengan tanaman obat keluarga di kampung gambar seperti di RW 10. Sungguh kreatif penempatannya. Untuk memburu sinar matahari, pemilik tanaman sering memindahkan posisi pot tanaman cabai. Itu pun, sinar matahari tidak bisa diperoleh sepanjang hari. Sebagian besar hanya mendapat sinar matahari pagi saja, atau siang sampai menjelang sore.

Bu Lilis, Pokja 3, yang paham betul wilayah asuhannya, mengajak penulis masuk ke wilayah pemukiman yang lebih padat…”bu, di sini, gak bisa lihat langit”, untuk menggambarkan bahwa gang yang kami lewati, berupa lorong antar rumah yang bagian atasnya tertutup oleh bagian rumah. Di mana tanam cabainya? Ternyata kami harus masuk ke dalam rumah, dan mendapatkan tanaman cabai dirawat di teras belakang, ada yang di belakang rumah dekat tempat cuci, ada yang menempel dinding, posisi pinggir kali Ciliwung. Itulah tempat yang ada sinar matahari.

Semua semangat tanam cabai. Ibu-Ibu yang kami temui, mengatakan jika ada tanaman cabai lumayan, tidak beli di tukang sayur keliling. Bu Hasnah mengatakan, lebih irit nanti, sekarang sehari belanja cabai dua ribu rupiah. Selain harapan bisa petik cabai, ternyata sudah ada hambatan. Keluhan Ibu-Ibu juga pak RT yang mengawal langsung, menyebutkan bahwa tikus, ayam, anak-anak yang belum paham, menjadi masalah yang ikut andil musnahnya sebagian tanaman selain mengalami layu dan mati. Dari fakta tersebut, masih perlu edukasi dan pendampingan untuk bisa tanam cabai dengan benar dan menghasilkan. Satu fakta yang menarik dari salah satu Ibu yang kami ajak ngobrol, adalah cara menyiasati jika cabai mahal. Jurus jitunya adalah mengurangi belanja cabai segar dan sebagian mengganti dengan sambel terasi olahan pabrik yang lebih murah, serta ingin tanam cabai sendiri (SuP).

Sumber : Puslitbang Hortikultura

faviconsertifikasi

BALAI PENELITIAN TANAMAN SAYURAN
Jl. Tangkuban Perahu 517,Kotak Pos 8413
Lembang 40391 - Jawa Barat - Indonesia
Telp: 022 - 2786245
Fax: 022 - 2789951, 2787676

http://balitsa.litbang.pertanian.go.id

Resep Masakan Resep Masakan