JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Minyak Bawang Merah Untuk Masyarakat Kota

Brebes, Sains Indonesia – Bagi para ibu-ibu, mengupas bawang merah menjadi salah satu rutinitas yang cukup memakan waktu ketika memasak. Belum lagi dampak perih yang dirasakan mata akibat menguapnya senyawa asam sulfenic dari bawang merah ketika mengupas, kadang membuat ibu-ibu kewalahan. Hadirnya inovasi produk minyak bawang merah mungkin bisa menjadi solusinya.
Produk olahan seperti minyak bawang merah, belum banyak dipikirkan para petani karena masyarakat Indonesia umumnya masih senang mengonsumsi bawang segar. Namun dalam beberapa tahun terakhir terjadi pergeseran pola konsumsi, khususnya masyarakat perkotaan modern, yang menuntut kepraktisan dan kecepatan dalam memasak. Bumbu siap pakai pun kian diminati.
Inilah yang menjadi alasan Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen) mengembangkan produk pascapanen untuk komoditas bawang merah. Selain untuk kemudahan masyarakat perkotaan, minya bawang merah juga dinilai menjadi solusi untuk meningkatkan pendapatan petani bawang merah dari sektor usaha pengolahan.
“Minyak bawang merah ini dasarnya adalah minyak, tapi dia sudah mengadung senyawa-senyawa flavour yang ada di bawang merah. Jadi aroma dan rasanya seperti bawang merah walaupun bentuknya minyak. Jadi kalau kita pakai minyak ini untuk memasak, maka tidak perlu bisa menggunakan rempah bawang merah lagi karena rasa bawang merah sudah ada di minyak tersebut,” papar peneliti BB Pascapanen, Sati Intan Kailaku di Brebes (5/4).
Kepada Sains Indonesia, Sari mengatakan jika produk ini sangat cocok untuk masyarakat perkotaan yang menginginkan kecepatan dan kepraktisan dalam memasak. “Karena memiliki cita rasa asli bawang merah, maka mereka tidak perlu mengiris-iris bawang lagi, cukup pakai minyak bawang merah saja. Jadi semua praktis. Apalagi produk ini dibuat tanpa menggunakan bahan tambahan pangan lainnya,” lanjut Sari.
Selain itu, minyak bawang merah inovasi BB Pascapanen ini keunggulan lainnya. Yaitu umur simpan yang panjang (tahan lama) hingga 6 sampai 12 bulan karena berbahan dasar minyak; tidak membutuhkan tempat penyimpanan khusus; dan memiliki nilai ekonomi tinggi.
“Produk ini belum ada di Indonesia. Sedangkan harga jual produk impor sejenis sekitar Rp 58.000 per botol kaca ukuran 150 ml atau setara Rp 386.000 per liter. Padahal jika buat sendiri, biaya bahan bakunya hanya sekitar Rp 85.000 per liter. Jadi keuntungannya bisa 3-4 kali lipat. Belum lagi keuntungan dari produk sampingan hasil pengolahan minyak, seperti ampas bawang bisa untuk bawang goreng, ini bisa untuk menurunkan biaya produksi dan meningkatkan keuntungan,” tutur Sari.

Sumber : Majalah Sains Indonesia

faviconsertifikasi

BALAI PENELITIAN TANAMAN SAYURAN
Jl. Tangkuban Perahu 517,Kotak Pos 8413
Lembang 40391 - Jawa Barat - Indonesia
Telp: 022 - 2786245
Fax: 022 - 2789951, 2787676

http://balitsa.litbang.pertanian.go.id

Resep Masakan Resep Masakan