Ashitaba pohonMau awet muda? Di Jepang, ada satu tanaman yang dikenal sebagai Tanaman Awet Muda di Pulau Awet Muda. Tertarik mencoba?
Pernah dengar tanaman ashitaba? Dari namanya mungkin kita sudah bisa menebak dari mana asal tanaman ini. Ashitaba memang merupakan tanaman asli dari Negeri Matahari Terbit. Tampilannya mirip seledri dengan ukuran lebih tinggi. Karena itu di Indonesia tanaman ini juga dikenal sebagai seledri jepang.
Tanaman dengan nama ilmiah Angelica keiskei ini masih belum banyak ditemukan di Indonesia. Menurut Nurliani Bermawie, peneliti utama Balai Penelitian Tanaman Obat dan Rempah (Balittro), Bogor, ashitaba dapat ditemukan tumbuh baik di Desa Sembalun, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. “Dari sini juga mereka sebagaisupplier ke Jepang. Panen daunnya dikeringkan, dan dikirim ke Jepang untuk dibuat teh,” ungkapnya saat ditemui AGRINA.
Selain di Lombok, ashitaba dikembangkan di kebun percobaan Manoko, Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. “Tanaman ini tumbuh baik di dataran tinggi. Daunnya itu cepat sekali tumbuh. Kalau hari ini dipetik, besok sudah tumbuh lagi,” tambahnya.
Kaya Khasiat
Pulau Hachi Jo, di Jepang, habitat ashitaba dengan kualitas terbaik, dihuni orang-orang berumur panjang. Berbagai penyakit yang dianggap lumrah melanda masyarakat modern, seperti kanker, diabetes, hipertensi, jarang ditemui menyambangi penduduk pulau ini. Ternyata, sehari-hari penduduk Hachi Jo terbiasa mengonsumsi ashitaba sebagai sayuran.
“Di Jepang, ashitaba memang dikenal sebagai tanaman yang bikin awet muda. Dia mengandung antioksidan tinggi dan bersifat antikanker. Daunnya dikeringkan, kemudian dijadikan teh,” jelas Nurliani. Menurut berbagai penelitian, kandungan antioksidan ashitaba melebihi anggur, teh hijau, maupun kedelai. Fungsinya mencegah kerusakan sel akibat radikal bebas dan memperlambat proses penuaan.
Khasiatnya memang tidak diragukan lagi. Beberapa penelitian menunjukkan kandungan zat gizi yang lengkap. Ashitaba terbukti kaya akan kandungan vitamin, mineral, asam amino, dan zat klorofil. Tingginya kandungan klorofil berpengaruh terhadap peningkatan produksi darah dan mempengaruhi keseimbangan fungsi tubuh.
Penelitian yang dilakukan Tatsuji Enoki, dari Biotechnology Research Laboratories, Takara Bio Inc., Jepang, membuktikan, klorofil dapat meredam pertumbuhan sel kanker karena mempunyai efek sitotoksik. Saat ini pengobatan modern pun sudah banyak yang meyakini penyembuhan kanker menggunakan klorofil lebih aman ketimbang pengobatan kimia.
Satu senyawa khas yang terkandung dalam getah berwarna kuning yang keluar dari batang ashitaba adalah chalcones. “Kalau batangnya dipotong, keluar getah berwarna kuning, itu juga berfungsi sebagai antioksidan. Justru kandungan getah kuning ini yang utama dimanfaatkan sebagai obat,” papar mantan Kepala Balittro ini. Bahan aktif xantoangetol dan4-hydroxyderricin yang ada dalam chalcone inilah yang berfungsi sebagai antioksidan.
Tidak hanya kesehatan, ashitaba juga dimanfaatkan dalam dunia kecantikan. Wuryaning Setyawati, herbalis yang lebih dikenal dengan Ning Harmanto, memanfaatkan ekstrak daun ashitaba untuk mengatasi jerawat. Menurutnya, kandungan Vitamin A yang lebih tinggi daripada wortel sangat efektif dalam mengatasi jerawat.
Sirup Ashitaba
Sayang sekali jika daun kaya khasiat ini tidak dimanfaatkan secara optimal. Memanfaatkan kandungan lengkap daun ashitaba, Nurliani bersama peneliti Balittro, Bagem Sofiana Sembiring, berinisiatif membuat minuman praktis dengan ashitaba sebagai salah satu bahan dasarnya.
“Kami ingin membuat minuman fungsional yang berkhasiat untuk meningkatkan daya tahan tubuh, melancarkan peredaran darah, sebagai antioksidan, mencegah penuaan dini. Minuman ini sebagai antioksidannya,” tutur peraih gelar Sarjana Pertanian dari Universitas Padjajaran 1984 ini.
Minuman yang dibuat dari ekstrak daun ashitaba, temulawak, jahe merah, dan pegagan berbentuk sirup dengan tambahan gula di dalamnya. Peraih Fellowship Award sebagai peneliti tamu dari Japan International Research Centre for Agriculture Sciences pada 1993-1994 ini menambahkan, minuman tersebut masih terus disempurnakan.
“Misalnya untuk pemanis, saat ini ‘kan masih menggunakan gula biasa. Jadi mungkin untuk yang diabetes masih tidak dianjurkan. Kami masih akan mencoba dengan pemanis yang lebih alami, seperti stevia atau kayu manis,” cetusnya.
Memang, sirup ashitaba ini belum diproduksi secara massal, baru diperkenalkan melalui ajang pameran dan presentasi. Kalau pun ada permintaan dalam jumlah kecil. Kemasan yang digunakan masih sangat bervariasi, tetapi lebih sering dalam kemasan botol berukuran 600 ml. Nurliani menyatakan, kerjasama dalam produksi produk secara massal masih sangat dibutuhkan untuk pemasaran minuman ini ke masyarakat luas.
“Ke depan justru saya pengin ini dibikin instan, jadi mudah disimpan dan diseduh. Atau dibuat menjadi kapsul seperti suplemen. Kalau sirup ‘kan cepat rusak, harus ditaruh di kulkas juga. Paling hanya satu sampai dua minggu. Ini yang masih harus dipikirkan lagi,” pungkas doktor bidang genetika dan pemuliaan tanaman Universitas Reading, Inggris, itu.
Renda Diennazola

Sumber : Tabloid Agrina

favicon sertifikasi
BALAI PENELITIAN TANAMAN SAYURAN
Jl. Tangkuban Perahu 517,Kotak Pos 8413 Lembang 40391 - Jawa Barat - Indonesia.

Waktu Pelayanan

  • Senin s/d Kamis
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 12.00 - 13.00 WIB
  • Jumat
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 11.30 - 13.00 WIB
Connect With Us