Resistensi Pestisida

Resistensi atau ketahanan serangga hama dan patogen penyebab penyakit terhadap pestisida merupakan masalah serius di seluruh dunia sejak akhir Perang Dunia II. Suatu organisme pengganggu tumbuhan (OPT) disebut resisten jika OPT di suatu daerah biasanya rentan terhadap suatu jenis pestisida , tetapi kemudian menjadi tidak dapat dikendalikan oleh pestisida tersebut.
Dampak resistensi OPT terhadap pestisida secara ekonomi dan sosial sangat besar. Petani harus mengeluarkan biaya pengendalian lebih besar, karena mereka terpaksa menggunakan dosis yang lebih tinggi atau membeli pestisida baru yang lebih mahal. Pemerintah merugi karena target produksi pertanian tidak tercapai. Industri pestisida merugi karena ' masa hidup' pestisida di pasar semakin pendek. Masyarakat menanggung risiko bahaya bagi kesehatan dan lingkungan hidup.
Sebagian besar resistensi terhadap pestisida disebabkan oleh tindakan manusia dalam mengaplikasikan pestisida, tanpa dilandasi oleh pengetahun tentang sifat dasar pestisida dan OPT sasaran. Oleh karena itu perlu dilakukan usaha untuk memperlambat atau menghindari terjadinya resistensi melalui perubahan perilaku manusia dalam mengaplikasikan pestisida.

Contoh kasus resistensi OPT terhadap pestisida
Beberapa penelitian di luar negeri melaporkan bahwa hama ulat daun kubis telah resisten terhadap DDT, paration, piretroid, organofosfat, serta Bacillus thuringiensis. Ternyata hal serupa juga terjadi di beberapa sentra produksi kubis di Indonesia. Bahkan hama tersebut juga resisten terhadap abamektin dan insektisida berbahan aktif ganda seperti lambda sihalotrin + klorantraniliprol dan tiametoksam + klorantraniliprol.
Di Jepang hama wereng coklat telah resisten terhadap malation 35,5 kali, diazinon 13,7 kali, fenitrotion 25,7 kali, sedangkan di Indonesia hama tersebut telah resisten terhadap fentoat 17,3 kali dan terhadap BPMC 7,7 kali. Baca Selanjutnya...

Penulis  : Tonny K. Moekasan, Laksminiwati Prabaningrum, Witono Adiyoga, Herman de Putter
Sumber : Modul 3 Pelatihan Penggunaan Pestisida pada Budidaya Cabai Merah, Tomat, dan Mentimun

 

Berita Terkait


PETUNJUK KEAMANAN PADA SAAT PENYEMPROTAN PESTISIDA

Tiga hal Penting Yang Perlu diketahui dalam Teknik Penyemprotan Pestisida

Pembuatan Larutan Semprot Pada Pestisida

Penggunaan Pestisida Harus Berdasarkan Pada Enam Tepat

Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan Cabai Merah, Tomat & Mentimun

Pengenalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) Cabai Merah, Tomat & Mentimun

 

favicon sertifikasi
BALAI PENELITIAN TANAMAN SAYURAN
Jl. Tangkuban Perahu 517,Kotak Pos 8413 Lembang 40391 - Jawa Barat - Indonesia.

Waktu Pelayanan

  • Senin s/d Kamis
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 12.00 - 13.00 WIB
  • Jumat
    :.. 8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat
    : 11.30 - 13.00 WIB
Connect With Us