JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Untuk Kualitas Kentang Terbaik

Berharap pada Tiga Varietas Baru

Tanaman Kentan MediansDI balik bentuknya yang tidak menarik, kentang (Solanum tuberosum L.) memiliki kelezatan rasa yang tidak terkalahkan. Digoreng, direbus, dipanggang, ataupun disayur, rasanya tetap nikmat. Bahkan beberapa penelitian menunjukkan manfaat kentang yang membantu pertumbuhan bakteri dalam saluran pencernaan tubuh. Kandungan garam alkali menjadikan kentang sebagai salah satu makanan basa yang paling kuat. Oleh karena itu, kentang sangat berguna untuk menjaga cadangan alkali tubuh Tidak heran jika kentang menjadi komoditas penting.

Meskipun tergolong karbohidrat, tidak sedikit yang mengonsumsi kentang dengan nasi. Padahal, kentang dapat dijadikan sebagai prioritas alternatif yang mampu mensubtitusi kebutuhan pangan pokok masyarakat.

Bahkan untuk kalangan tertentu (misalnya penderita diabetes), kentang merupakan makanan pokok untuk diet karena kandungan kadar gulanya yang rendah. Restoran siap saji dan berbagai jenis penganan juga menggunakan kentang sebagai bahan menu utamanya. Berbagai kenyataan itu semakin menegaskan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap kentang.
Biro Pusat Statistik (BPS) pada 2012 mencatat rata-rata konsumsi kentang di Indonesia mencapai 1.027.845 ton per tahun. Untuk mencukupi kebutuhan tersebut, Indonesia pada 2008 terpaksa mengimpor sebanyak 76.420 ton. Sementara produksi dalam negeri setiap tahunnya 1.004.041 ton.
Kentang yang diimpor sebagian besar untuk kebutuhan industri. Kentang yang biasa digunakan untuk industri adalah jenis atlantik. Namun, jenis tersebut tidak ditanam di Indonesia. Yang banyak ditanami di Indonesia adalah kentang sayur (granola). Dengan demikian untuk kebutuhan industri, terpaksa harus mengimpor kentang atlantik.
Untuk mendapatkan kualitas kentang terbaik untuk olahan, sejak 2013, Badan Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) Kementerian Pertanian telah mengembangkan beberapa varietas kentang. Ketiga varietas yang kini masih diteliti adalah kentang varietas amabile, medians, maglia. Ketiga varietas tersebut memiliki keunggulan produktivitas tinggi dan tahan penyakit utama kentang (Phytopthora infestans).
Kepala Balitsa Liferdi Lukman mengatakan, ketiga varietas kentang tersebut adalah jenis kentang olahan, khususnya untuk produksi keripik kentang. Ketiganya memiliki kadar mutu rendemen (kadar air) yang rendah. “Sehingga ketika digoreng, tidak membutuhkan minyak yang banyak dan kentang pun cepat kering,” kata Liferdi.
Keuntungan berlebih
Liferdi juga menjelaskan, dengan menanam varietas kentang tersebut, petani akan mendapatkan keuntungan yang berlebih. Ia memberi gambaran untuk menanam kentang olahan atlantik di lahan satu hektare, dibutuhkan biaya produksi sebesar Rp 70-75 juta. Tingginya biaya produksi itu karena kentang tidak tahan terhadap hama. Agar bisa bertahan hingga masa panen, dalam satu periode (tiga bulan) kentang harus disemprot dengan cairan antihama sebanyak 25-30 kali.
Di Balitsa yang bekerja sama denagan Center International Potato (CIP) membuat penelitian guna mendapatkan varietas kentang terbaik. CIP sendiri memiliki sumber genetik yang cukup banyak. Sumber genetik ini lalu disilangkan dengan genetik lain yang tahan lama tetepi tidak komersial.
Pada 2013, kata Liferdi, Balitsa merilis tiga varietas yang dapat menggantikan atlantik. Ketiga varietas tersebut lebih tahan terhadap penyakit busuk daun. Dengan demikian, tidak perlu penyemprotan puluhan kali.“Penyemprotam cukup dilakukan 10 kali dalam satu periode,” kata Liferdi.
Tingkat produksi pun berkali lipat dari varietas sebelumnya. Denaga varietas sebelumnya, rata-rata produksi 16 ton per hektare sedangkan dengan varietas terbaru produksi dapat mencapai 30 ton per hektare. Oleh karena itu, petani dapat mengantongi keuntungan berlipat. Dari pengurangan biaya semprot, biaya produksi dapat mencapai Rp 40 juta. Belum lagi dari keuntungan penjualan.
Akan tetapi, petani belum bisa menikmati keuntungan dari menanam kentang tiga varietas terbaru Balitsa. Menurut Liferdi, paling cepat dibutuhkan waktu lima tahun dari satu varietas sebelum dilepas ke masyarakat. Waktu yang lama itu dibutuhkan untuk mendapatkan varietas terbaik.
Liferdi mengatakan, ketiga varietas itu kini masih dalam tahap pengembangan. Tahap awal, adalah pembenihan. Di tahap ini, pembenihan dilakukan dalam bentuk kultur jaringan di laboratorium. Selanjutnya, di rumah kassa ditanam dalam kotak-kotak dengan media sekam (kondisi Go atau no virus). Kemudian, ditanam di lapangan dalam kondisi G2, G3 dan G4. “Dengan tahapan seperti ini diperkirakan pada 2015 benih sudah bisa ditanam pelaku industri,” ucapnya. (Dewiyatini/”PR”)***

 

Sumber : Pikiran Rakyat

faviconsertifikasi

BALAI PENELITIAN TANAMAN SAYURAN
Jl. Tangkuban Perahu 517,Kotak Pos 8413
Lembang 40391 - Jawa Barat - Indonesia
Telp: 022 - 2786245
Fax: 022 - 2789951, 2787676

http://balitsa.litbang.pertanian.go.id

Resep Masakan Resep Masakan