Bawang merah

 

PENDAHULUAN

Bawang merah (Allium ascalonicum L.) termasuk famili Liliaceae dan merupakan sayuran semusim, berumur pendek dan diperbanyak secara vegetatif menggunakan umbi, maupun generatif dengan biji (TSS=True Shallot Seed). Pada umumnya bawang merah dikonsumsi setiap hari sebagai bumbu masakan, dan juga dapat digunakan sebagai obat tradisional untuk menurunkan suhu tumbuh orang sakit.

 

PERSYARATAN TUMBUH

  • Tanaman bawang merah cocok tumbuh di dataran rendah sampai tinggi  (0–1000 m dpl) dengan ketinggian optimum 0-450 m dpl.
  • Syarat tumbuh lainnya antara lain ialah cahaya matahari minimum 70%, suhu udara 25-320C, dan kelembaban nisbi 50-70%. Struktur tanah remah, tekstur sedang sampai tinggi, drainase  dan aerasi yang baik, mengandung bahan organik yang cukup, dan pH tanah netral (5,6– 6,5)
  • Jenis tanah yang paling cocok untuk tanaman bawang merah ialah tanah Aluvial atau kombinasinya dengan tanah Glei-Humus atau Latosol

 

BUDIDAYA TANAMAN

Varietas yang dianjurkan

Varietas yang dianjurkan  antara lain ialah Bima Brebes, Kuning, Kramat 1, Kramat 2

  

Persiapan Tanah

Pada lahan bekas padi sawah atau bekas tebu

  • Tanah dibuat bedengan-bedengan dengan lebar 1,75 m dan panjangnya disesuaikan dengan kondisi lahan,  kedalaman parit 50–60 cm dan lebar parit 40–50 cm.
  • Kondisi bedengan mengikuti arah Timur-Barat.
  • Tanah yang telah diolah dibiarkan sampai kering kemudian diolah lagi 2–3 kali sampai gembur sebelum dilakukan perbaikan bedengan-bedengan dengan rapi.
  • Sisa tanaman padi/tebu yang tertinggal dibersihkan

 

Pada lahan tegalan atau Lahan kering

  • Tanah dibajak atau dicangkul sedalam 30 cm, kemudian dibuat bedengan-bedengan dengan lebar 1-1,2 m, tinggi 40 cm, sedangkan panjangnya tergantung pada kondisi lahan.
  • Lahan dengan pH kurang dari 5,6 diberi Dolomit minimal 2 minggu sebelum tanam dengan dosis 1–1,5 ton/ha/tahun (untuk dua musim tanam berikutnya) yang disebar pada permukaan tanah dan kemudian diaduk rata.

 

Penanaman

  • Pemotongan ujung bibit hanya dilakukan apabila bibit bawang merah belum siap ditanam (pertumbuhan tunas dalam umbi 80%)
  • Kebutuhan umbi bibit 1-1.2 ton/ha dengan ukuran umbi sedang (5-10 g)  dan berumur 2-3 bulan dari panen (ciri  tunas sudah samapai ke ujung umbi)
  • Jarak tanam yang digunakan 20 cm x 15 cm

 

Pemupukan

Pada lahan bekas padi sawah atau bekas tebu

  • Pupuk dasar berupa pupuk buatan 300 kg SP-36/ha 60 kg KCl/ha dan 500 kg NPK mutiara (16:16:16) disebar serta diaduk rata dengan tanah, tujuh  hari sebelum tanam.
  • Pupuk susulan berupa 180 kg Urea/ha,  atau 400 kg ZA/ha dilakukan pada umur 10-15 hari setelah tanam dan pada umur 30-35 hari setelah tanam adalah 180 kg Urea/ha.

 

Pada Lahan Tegalan/Lahan Kering

  • Pupuk dasar berupa pupuk kandang sapi /kuda (15-20 ton/ha) atau kotoran ayam (5-6 ton/ha) atau kompos (2,5-5 ton/ha) dan pupuk buatan SP-36 (250 kg/ha).  Pupuk dasar diberikan dengan cara  disebar serta diaduk rata dengan tanah 1-3 hari sebelum tanam.
  • Pemupukan susulan menggunakan Urea (150-200 kg/ha), ZA (300-500 kg/ha) dilakukan pada umur 10-15 hari setelah tanam dan pada umur 1 bulan setelah tanam masing-masing ½ dosis. Atau menggunakan pupuk majemuk NPK (16-16-16) 600 kg/ha yang diberikan seminggu sekali  dengan cara dicor disekitar tanaman

 

Pemeliharaan

  • Tanaman bawang merah membutuhkan air yang cukup banyak selama  pertumbuhan dan pembentukan umbi, terutama pada musim kemarau.
  • Pada lahan bekas sawah, penyiraman dilakukan satu kali sehari pada pagi atau sore hari sejak tanam sampai umur menjelang panen.
  • Pada musim hujan,penyiraman ditujukan untuk membilas daun tanaman dari tanah yang menempel. Periode kritis dari kekurangan air terjadi saat pembentukan umbi.
  • Penyiangan dilakukan  2–3 kali selama satu musim tanam, terutama  pada umur 2 minggu setelah tanam
  • Perbaikan pinggir bedengan dilakukan bersamaan dengan waktu penyiangan

 

Pengendalian dengan menggunakan Teknologi Pengendalian Hama Terpadu (PHT), yaitu:

  1. Secara kultur teknis (pemupukan berimbang, penggunaan varietas tahan OPT, penggunaan musuh alami (parasitoid, predator dan patogen serangga).
  2. Secara mekanik (pemotongan daun yang sakit atau terdapat kelompok telur  Spodoptera exigua, penggunaan jaring kelambu, penggunaan feromon seks, perangkap kuning,  perangkap lampu dll).
  3. Penggunaan bio–pestisida.
  4. Penggunaan pestisida selektif berdasarkan ambang pengendalian

 

Panen dan Pascapanen

Panen bawang merah dilakukan setelah umurnya cukup tua, biasanya pada umur 60–70 haridengan tanda-tanda berupa leher batang 60% lunak, tanaman rebah dan daun menguning

Bawang merah yang dipanen diikat pada batangnya untuk mempermudah penanganan  dan umbi dijemur sampai cukup kering (1-2 minggu) di bawah sinar matahari langsung.

Jika tidak langsung dijual, umbi disimpan dengan cara menggantungkan ikatan bawang merah atau disimpan di rak di gudang khusus, pada suhu 25-30ºC dan kelembaban rendah (± 60-80%).

favicon sertifikasi
BALAI PENELITIAN TANAMAN SAYURAN
Jl. Tangkuban Perahu 517,Kotak Pos 8413 Lembang 40391 - Jawa Barat - Indonesia.

Twitter Feed

  • RT @balitsa_ivegri: Ini keripik Kentang Chidori dihasilkan dari olahan kentang varietas medians hasil penelitian dari Balai Penelitian Tanaman Sayuran.
    Jul. 28, 2018
  • RT @balitsa_ivegri: Tiga Mahasiswa asal Malaysia kunjungi Balai Penelitian Tanaman Sayuran.
    Aug. 2, 2018

Waktu Pelayanan

  • Senin s/d Kamis :
    8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat :
    12.00 - 13.00 WIB
  • Jumat :
    8.00 - 15.30 WIB
  • Istirahat :
    11.30 - 13.00 WIB
Connect With Us